Jumat, 17 Februari 2012

Seperti Apakah Kebahagiaan..??









"Dan dari sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Semoga Tuhanmu menempatkanmu di tempat yg terpuji"
-Alqur'an-

Selama ini saya selalu berdoa agar Allah memberi kebahagian dalam hidup saya. Tapi mengapa saya tak kunjung merasa bahagia?? Apa yang salah?? Saya mencoba untuk terus mencari tahu. Setelah saya telusuri, sayapun menemukan jawaban dari apa yang sekian lama mengganggu pikiran dan hati saya. Saya menemukan penyebab mengapa saya tak kunjung merasa bahagia. Ternyata hati dan pikiran saya  memang belum memiliki sikap yang sesuai untuk layak berbahagia. Saya terus berpikir dan bermuhasabah, hingga sampailah saya pada satu kesimpulan bahwa kunci bahagia hanyalah tiga hal: Ikhlas, Syukur,dan Sabar.

Ternyata hanya tiga hal itu kuncinya....
Selama ini kita banyak terjebak dengan konsep-konsep kebahagiaan semu yang justru membuat hati semakin gundah dan jauh dari bahagia yang sesungguhnya. Kebahagian ternyata bukan sekedar mobil atau rumah mewah. Justru kebahagiaan ada ketika kita punya mobil, kita bersyukur, jika belum mampu punya mobil ya naik sepeda motor, jika belum mampu membeli sepeda motor ya naik sepeda ontel, dan jika belum juga mampu membeli sepeda ontel ya jalan kaki. Naik mobil, sepeda motor, sepeda ontel, atau jalan kaki sekalipun tetap bersyukur. Tetap ikhlas, tetap sabar, tetap bahagia. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika hati kita merdeka. Tidak terjajah dan dikendalikan oleh keadaan di sekitar kita. Kebahagiaan ada di dalam hati. Jika hati kita telah memutuskan untuk bahagia, baik sepeda ontel atau jalan kaki tidak akan ada bedanya dengan naik mobil mewah. Karena kunci kebahagiaan ada di dalam hati.  Hati kita yang memutuskan apakah kita akan merasa bahagia atau merasa menderita.

Kebahagiaan adalah ketika kita dapat bersabar saat kita terusik oleh suatu hal yang menjengkelkan, oleh beban yang memberatkan, oleh tekanan yg menyakitkan atau oleh sesuatu yang tidak kita harapkan. Saya melihat bahwa kita sering "main hati" dengan hal-hal sepele yang seharusnya tidak boleh mengambil kebahagiaan dari hati kita. Tapi kita justru membiarkannya mengusik hati kita, membawa lari kedamaian yang kita miliki dan membuat kita tidak bahagia. Contohnya adalah ketika kita dihadapkan pada sikap seorang teman yang tidak kita harapkan, yang membuat kita tidak enak hati. Mengapa kita tidak bangkit dengan cepat dan memaklumi bahwa sikap tersebut adalah bagian dari keunikan dirinya. Betapa damainya hidup ketika kita bisa melihat masalah dari perspektif  yang lebih indah dan positif.

Seperti itu saja kebahagian, tentu saja hal di atas hanya satu dari sekian banyak contoh. Ada ribuan contoh lain yg tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini. Hidup hanya soal pilihan seperti dua sisi mata uang. Segala sesuatunya kita yang memutuskan. Kita yang punya kuasa atas diri kita. Kita yang memutuskan, apakah kita akan memilih hidup bahagia atau sebaliknya, menderita dan sengsara. Masalah dan cobaan adalah hal yang niscaya karena keduanya adalah salah satu cara Tuhan menguji hamba-Nya, tapi kita memiliki otoritas penuh untuk melihat masalah itu dari sudut pandang mana, dan saya memutuskan untuk melihat setiap kesulitan, ketidanyamanan dan ketidakmapanan segala sesuatu dengan sudut pandang yang mendamaikan hati, sudut pandang yang menenangkan, yang membuat saya bahagia, yaitu sudut pandang positif. Hidup ini hanya sekali, terlalu berharga jika harus kita lalui dengan tidak merasa bahagia.

Bahagia juga berarti ikhlas, ya ikhlas adalah puncak tertinggi dalam agama. Pencapaian tertinggi seorang hamba. Sebenarnya saya sendiri tidak mengerti batasan makna ikhlas, bahkan malaikat dan syaitanpun tak  mengerti. Hanya Allah yang mengetahui keikhlasan hamba-Nya. Tapi untuk mempermudah tulisan ini bolehlah saya sedikit mengambil makna ikhlas sebagai sikap batin yang suka rela tanpa mengharap apapun kecuali hanya ridho Allah. Ketika membantu orang lain, ikhlas. Ketika menghadapi masalah, ikhlas. Menjadi kaya, ikhlas. Hidup pas-pasan padahal sudah berusaha, ikhlas. Belajar, ikhlas. Memberi, ikhlas. Semuanya ikhlas, karena ikhlas meliputi seluruh dimensi kehidupan.

Mungkin tulisan ini terkesan klise, sangat naif. Tapi sungguh ini adalah hal yang wajar. Ketiganya sudah  memiliki panduan dalam Al-qur'an dan Al-qur'an diturunkan untuk manusia. Artinya, ketiga kunci bahagia tersebut bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Kalaupun sulit (dan memang tidak mudah) bukan berarti tidak mungkin, hanya perlu waktu dan proses untuk mencapai ketiganya, dan itu  sangatlah mungkin. Hanya perlu membiasakan diri dengan hal-hal tersebut, sayapun masih belajar :-)

Hidup kadang memang terkesan menuntut kita terlalu banyak. Saya teringat dengan kehidupan saya  sekitar 2-3 bulan yang lalu, saat tugas kuliah dua jurusan tumpuk menumpuk. Semuanya minta diselesaikan, di saat yang sama saya harus menghadapi masalah dengan seorang rekan yang "sedikit" membuat saya kecewa dan itu menuntut penyelesaian yang tidak mudah. Di sisi lain, saya juga bermasalah dengan finansial bisa dibilang karena sedikit bangkrut, dan banyak masalah lainnya. Bahkan saya juga bermasalah dengan buku-buku tebal yang harus saya baca hanya karena tidak tahu lagi kapan waktu luang yang saya miliki untuk membaca. Benar-benar hidup yang membelenggu.

Kemudian saya bermuhasabah. Saya menegaskan diri, atau lebih tepatnya mencoba tegas pada diri sendiri untuk mengubah aturan main dalam hidup saya. Saya pernah mendengar sebuah pepatah yang menyatakan bahwa "barang siapa keras (tegas) pada diri sendiri, maka dunia lunak kepadanya.dan barang siapa lunak terhadap diri sendiri maka dunia keras kepadanya". Saat itu juga saya memutuskan untuk berubah dan membebaskan diri dari semua belenggu yang memenjara pikiran dan hati saya. Saya  memutuskan untuk hidup bahagia. Tugas kuliah yang menumpuk tidak boleh membebani saya, mungkin menganggapnya sebagai petualangan jauh lebih menyenangkan, toh intinya tetap sama, tugas kuliah. Mengapa harus menjadi beban? Masalah dengan rekan saya yang terkesan sangat tidak bertanggung jawab, baiklah, mungkin itulah dia dengan segala kehidupannya. Menangis darah tidak akan mengubah apapun kecuali dia memang mau berubah, toh saya tidak bisa memaksa dia untuk berubah.

Ketika defisit tak ada uang, ya sudah nikmati saja. Hidup ini indah koq, mengapa harus menderita hanya karena uang. Itu kan hanya soal sikap mental saja, toh dunia berputar, tidak  selamanya kita di bawah, dan tidak selamanya pula di atas. Saya bukan satu-satunya mahluk di dunia ini yang tidak punya uang, tapi saya bersyukur karena saya masih bisa pergi kemanapun, makan apapun yang saya mau, dan selalu ada rizki yang cukup ketika saya membutuhkannya baik terduga maupun tak terduga. Lalu nikmat Tuhan mana lagi yang harus saya dustakan? Semuanya sudah Tuhan berikan berupa kelapangan lahir dan batin. Tak punya uang, bokek ya jalani saja, semua ada fasenya. Santai saja, berani miskin pasti bisa kaya, takut miskin tak  mungkin kaya.

Kemerdekaan sejati adalah ketika kita dapat membebaskan diri dari belenggu pikiran dan jiwa kita sendiri. Karena sebenarnya musuh terbesar  yang menjajah diri kita bukanlah Kompeni yang telah lama hengkang dari bumi pertiwi. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan, maka berbahagialah kita dengan ikhlas, syukur dan sabar. :-)
Akhirnya, tulisan sederhana ini hanyalah hasil renungan saya di pagi hari menjelang subuh tentang "Five pilars of pondok" :
1. Keikhlasan
2.kesederhanaan
3.berdikari
4.ukhuwah islamiah
5. Kebebasan.
Dan sekarang saatnya shalat subuh...
Trimakasih Allah...
Trimakasih pondokku.....

1 komentar: