Jumat, 17 Februari 2012

Nikmat Tuhanmu Adalah Amanah Bagimu

Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Selalu ada hikmah yang dapat dipetik dari setiap peristiwa. Hidup menjanjikan pembelajaran yang membentang luas bagi orang–orang yang mau berpikir dan merenungi tanda–tanda kekuasaan-Nya. Mahatma Gandhi pernah  mengatakan “Aku bisa belajar bahkan dari bayi yang masih menyusu kepada ibunya”.


Ketika membaca ayat–ayat-Nya, tidak jarang kita menemukan kalimat “apa kamu tidak berpikir?”“apa kamu tidak memahami?” dan kalimat pertanyaan lainnya. Banyaknya ayat semacam ini di dalam Al- qur'an menunjukkan pentingnya kita untuk menelaah, memahami, mentadaburi dan memikirkan segala sesuatu yang ada di alam. Segala sesuatu yang muncul di sekitar kita. Segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Harapannya, kita dapat semakin mengerti, memahami, dan bisa melihat tanda-tanda kebesaran-Nya di muka bumi. Menjadikan kita  hamba yang lebih bijaksana.

Jika kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa ada  begitu banyak hal berharga yang telah terjadi dalam hidup kita. Begitu banyak peristiwa yang dapat kita ambil hikmahnya. Seluruh fenomena kehidupan secara simultan mengajari umat manusia akan kebijaksanaan. Sekalipun terkadang kita alpa, larut dalam arus kehidupan yang melenakan. Namun Allah Maha Pengasih, tak lelah Dia menyadarkan kita kembali. Membangunkan kita dari tidur panjang. Mengingatkan kita yang larut dalam rutinitas kehidupan tanpa henti.

Salah satu yang tak pernah berhenti mengalir dalam hidup kita tetapi sering kita lupakan adalah nikmat , anugerah atau pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Betapa besar nikmat yang Dia beri kepada kita mulai dari iman, kesehatan, kesadaran akan peran dan tanggung jawab, orang–orang tercinta, kesempatan hingga nikmat lain yang tidak terhitung banyaknya.

Mungkin seseorang baru menyadari betapa berharganya sehat ketika dia mulai sakit. Ketika dia tidak lagi bisa menikmati makanan yang enak menurut kebanyakan orang. Ketika uang tidak lagi mampu memberinya kebahagiaan karena penyakit telah menggerogoti tubuh, hati dan pikirannya. Ketika orang – orang yang kita cintai hanya bisa menghibur tanpa dapat berbuat banyak untuk kita.

Seseorang mungkin baru menyadari betapa beruntungnya ia bisa mengenyam bangku perguruan tinggi saat ia menyaksikan jutaan anak putus sekolah. Saat ia melihat bahwa anak usia sekolah yang seharusnya menikmati pendidikan justru berkeliaran di jalanan kota besar menjajakan koran atau lebih parahnya, meminta – minta.

Seseorang mungkin baru akan menyadari betapa beruntungnya ia dapat belajar kepemimpinan dalam suatu organisasi ketika ia melihat kebutuhan masyarakat akan sosok pemimpin yang baik begitu mendesak, tetapi di saat yang sama keadaan tidak mengakomodir kebutuhan ini karena adanya krisis sosok pemimpin yang baik dan mau sepenuh hati berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Seseorang baru akan menyadari segalanya ketika terbuka mata hatinya. Sebagaimana sinar matahari hanya dapat dilihat oleh orang yang terbuka mata inderanya, begitu juga kebijaksanaan, hanya dapat dilihat oleh orang yang terbuka mata hatinya.

Saya sering merenung. Betapa besar nikmat yang telah Allah berikan dalam hidup saya. Betapa banyak kesempatan yang saya dapat untuk bisa mengembangkan diri sebaik mungkin. Bukan hanya itu, saya bahkan dikelilingi oleh orang–orang yang siap mendidik, mengajari, dan bahkan belajar bersama untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Saya sangat bersyukur atas semua itu.

Tetapi sejurus kemudian saya mulai bergidik. Jangan–jangan saya lengah dengan semua nikmat ini. Jangan-jangan muncul sepercik kebanggaan di hati saya atas kesempatan–kesempatan ini. Jangan–jangan Allah tidak ridho dengan cara saya menyikapi pemberian ini. Jangan–jangan ada yang salah dengan diri saya. Saya menjadi begitu takut dan khawatir. Saya takut menjadi  orang yang lengah, larut, dan kemudian kufur nikmat. Saya takut jika nikmat–nikmat ini tidak mengantarkan saya menjadi semakin dekat kepada-Nya tapi justru semakin jauh. Saya takut tidak mendapat ridho-Nya tapi justru mendapat murka-Nya. Saya sungguh tidak siap jika harus seperti itu. Bagi saya ridho Allah adalah harga mati. Ridho Allah adalah segalanya.

Setelah melalui perenungan panjang, saya mulai melihat nikmat-nikmat dan kesempatan itu dengan perspektif berbeda. Saya mulai memahami. Ketika kita diberi kesempatan untuk menghadiri suatu pertemuan mahasiswa di luar kota misalnya, dengan tunjangan yang nyaris ‘Full’, hampir semua orang pasti menganggap kita orang yang beruntung. Ya minimal bisa jalan–jalan gratis, bisa mendapat banyak pengalaman baru, teman–teman baru, dan lain sebagainya. Dan memang benar, sayapun tidak menafikannya.

Tapi saya mencoba melihat dari perspektif berbeda. Saya memahami kesempatan itu sebagai nikmat. Dan nikmat adalah amanah. Semakin bertambah nikmat yang dianugerahkan kepada seseorang, bertambah pula amanah dan tanggung jawabnya pada kehidupan. Seorang mahasiswa yang diberi kesempatan “jalan–jalan” oleh universitasnya misalnya, sejatinya ia sedang diberi amanah baru yang tidak diberikan kepada mahasiswa lain yang tidak mendapat kesempatan untuk “jalan–jalan” sebagaimana dirinya. Dan sebagai wujud syukurnya, ia harus memberi satu kontribusi yang berharga bagi universitas dan teman–temannya. Jika tidak, ia akan termasuk orang yang kufur nikmat di hadapan-Nya. Naudzubillah min dzalik...

Saya melihat, kesadaran bahwa nikmat adalah amanah begitu penting agar kita tidak larut dalam kenikmatan sesaat yang justru akan menurunkan derajat kita di hadapan-Nya. Dengan kesadaran bahwa nikmat adalah amanah, mungkin tidak akan ada lagi orang yang berebut jabatan, kekuasaan, kesempatan dan nikmat -nikmat lainnya secara berlebihan dan tidak proporsional. Karena mereka meyadari bahwa masing–masing nikmat tersebut menuntut konsekwensi yang tidak ringan. Menuntut amanah yang besar yang harus kita pertanggung jawabkan kemudian bukan hanya kepada sesama manusia atau institusi, tetapi lebih dari itu, kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun demikian, kesadaran bahwa nikmat adalah amanah tidak boleh menjadikan kita lantas menjauhinya karena takut akan konsekwensi dan beban yang harus kita tanggung. Nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita sudah selayaknya kita sambut dengan tangan terbuka dan penuh kesyukuran. Kita mungkin hanya perlu menundukkan kepala dan merendahkan hati di hadapan-Nya, memohon kekuatan agar dapat menjalani setiap amanah dengan benar sehingga kita dapat mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah dengan senyum mengembang. Hingga kemudian semua nikmat yang kita peroleh dapat mengantarkan kita menjadi semakin mulia di hadapan-Nya. Dapat mengantarkan kita menuju ridho-Nya.

“Maka nikmat dari Tuhanmu hendaklah kau ceritakan”
QS. Ad-Dhuha :11

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
QS. Ibrahim : 7

Wallahua’lam Bissawwab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar