Jumat, 17 Februari 2012

Sebuah Pembelajaran dari Perempuan Cemerlang yang Dimiliki Indonesia

@ Diskusi Peradaban SPI
Ini adalah sebuah refleksi dari apa yang saya baca, dari sebuah buku berjudul "Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan" ( MHMMD ) tulisan seorang wanita yang sejak 6 tahun yang lalu telah saya kagumi, dan masih terus menginspirasi saya hingga detik ini. Ya, beliau bernama Marwah Daud Ibrahim, salah satu wanita berprestasi yang dimiliki Indonesia, yang berasal dari sebuah desa kecil di sebuah kabupaten bernama Soppeng di Sulawesi Selatan. Beliau hidup dengan banyak keterbatasan pada awalnya, namun dengan mentalitasnya yang sekuat baja, beliau telah membuktikan diri sebagai salah seorang anak negeri terbaik yang dimiliki Indonesia. Perjalanan beliau patut diteladani oleh setiap wanita yang ingin memberikan  sesuatu yang "lebih" untuk kehidupan, namun tetap berpegang teguh pada kodrat kewanitaannya. :)

Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya MHMMD mendefinisikan kesuksesan dengan cara yang sederhana, sukses baginya berarti memanfaatkan dan mengaktualisasikan potensi yang diberikan Tuhan kepada kita untuk membawa manfaat bagi kelanjutan dan peningkatan kualitas kehidupan di bumi. Sukses menurut seorang ibu 3 anak ini berarti membuat hidup suatu makhluk atau seseorang atau banyak orang menjadi lebih baik, lebih bermakna karena kita telah memberikan banyak sentuhan disana. Sukses menurut peraih gelar doktor di American University pada usia 32 tahun ini adalah mengerjakan atau menghasilkan sesuatu yang usia keberadaan dan manfaatnya lebih panjang dari usia hidup kita sendiri. Sukses menurut beliau adalah melakukan tugas kemanusiaan kita masing-masing, sesuai dengan minat, bakat, dan jalan hidup yang ditetapkan Tuhan untuk kita.

Penulisan buku ini dilatar belakangi oleh kerisauan beliau -setelah melalui penerungan panjang dan mengunjungi berbagai negeri di berbagai penjuru dunia-  dengan apa yang terjadi di negeri ini. Beliau sadar bahwa manusia Indonesia yang jumlah penduduknya terbesar kelima di dunia, sama cerdasnya dengan manusia lain di dunia. Beliau sadar bahwa bangsa ini dikaruniai potensi alam yang begitu kaya. Kesadaran ini menimbulkan keyakinan dalam diri beliau bahwa bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar,maju, berpengaruh dan memimpin, bukan hanya di Asia tapi juga di dunia.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya, tidak sedikit para generasi muda di Indonesia yang menganggur padahal mereka berada dalam masa usia produktif, tidak sedikit tawuran terjadi di negeri ini, padahal di saat yang sama, di negara maju, sangat sulit untuk melihat generasi muda yang menganggur, kebanyakan mereka mengisi waktu luangnya di sela-sela jam sekolah atau kuliah dengan bekerja part time sekedar menjajakan koran, minuman, atau apapun itu dan setelah itu mengisi waktu luang lainnya dengan berolah raga.

Setelah menganalisis secara mendalam, beliau menemukan bahwa salah satu penyebab dari masalah ini adalah, bahwa sejak usia dini anak- anak  di negara-negara maju sudah diasistensi oleh keluarga, sekolah, sistem masyarakat dan bernegara untuk mengenal diri, potensi dan rencana hidup mereka. Mereka terbiasa merencanakan hidup, menyusun target terukur, dan melangkah tapak demi tapak untuk mencapai tujuannya, sebaliknya, banyak orang di Indonesia belum mengenal diri mereka, dan belum mengetahui tujuan serta target apa yang akan mereka capai dalam hidup.

Maka, untuk menjadi bangsa yang besar, kita harus merumuskan paradigma baru, yaitu melihat sukses bangsa sebagai kumpulan atau akumulasi dari sukses kecil setiap warganya. Untuk menjadi bangsa yang berpengaruh kita harus membuat setiap warga negeri ini sukses dan salah satu caranya adalah dengan memberikan keterampilan hidup (life skill). Dan keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat yang hidup di negara berkembang seperti Indonesia adalah keterampilan dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. :)

Hal di atas  senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang Ilmuwan Inggris bernama John Stuart Mill yang menyatakan bahwa "The worth of a state in the long run is the worth of the individuals composing it " Nilai suatu negara dalam jangka panjang adalah kumpulan nilai dari individu-individu di dalamnya. Maka, daripada terus menerus mengutuki pemerintah atas segala kekurangan yang ada di negeri ini, lebih baik kita saling berlomba untuk meningkatkan nilai dan kualitas diri kita sebagai aktualisasi dari peran kekhalifahan kita di muka bumi sekaligus sebagai  wujud kecintaan kita pada negeri ini, karena sukses bangsa adalah akumulasi dari sukses individu.

Dalam bab-bab selanjutnya, Marwah Daud Ibrahim menjelaskan panjang lebar tentang keterampilan paling mendasar bagi seseorang seperti pengenalan diri, pencarian peluang, penetapan tujuan, penyusunan rencana,proses pencapaian tujuan dan manajemen waktu dengan disertai tool atau alat-alat yang membantu berupa kolom-kolom dan tabel untuk membantu pembaca dalam memulai upaya untuk mengelola hidup dan merencanakan masa depannya.

Pengenalan Diri

"Tidak ada karya besar yang dapat dicapai tanpa orang besar, dan seseorang menjadi besar hanyalah jika ia berketetapan untuk itu"
-Charles De Gaulle-

Statemen di atas menunjukkkan bahwa sebelum menjadi besar, seseorang harus membangun pondasi tersebut di dalam pikirannya, menetapkan diri ke arah sana.Kita tak akan pernah menjadi besar jika kita tidak berketetapan untuk itu.
Mengenali diri sendiri pada hakekatnya adalah PR besar bagi setiap manusia, saking pentingnya mengenali diri sendiri, maka dikatakan bahwa yang mengenal dirinya dialah yang mengenal Tuhannya. 

Mengenali diri menurut Marwah Daud Ibrahim dalam MHMMD meliputi perenungan tentang siapakah kita sesungguhnya? dimana letak posisi kita dalam sejarah panjang peradaban umat manusia di bumi ini? dimana letak peran kita sebagai makhluk di jagad raya yang luas ini? apa tujuan penciptaan kita? apa karya penting yang akan kita hasilkan? Perenungan seperti ini sangat penting agar kita dapat memposisikan diri kita secara tepat dalam kehidupan. Dengan hal itu diharapkan kita dapat melihat potensi dan dimensi kehidupan kita secara lebih terpadu sehingga kita dapat memilki keyakinan diri dan pikiran positif, hal inilah yang pada gilirannya bisa menjadi modal dasar bagi kita untuk menghasilkan karya besar.

Segalanya bermula dari pikiran dan keyakinan diri, jika kita yakin akan sukses, maka seluruh energi akan kita kerahkan untuk mencapai apa yang kita rencanakan, tapi jika kita yakin akan gagal, maka energi kita juga akan mendorong kita untuk gagal. Untuk berpikir positif kita harus mengenal siapa diri kita di masa lalu, masa sekarang dan masa depan yang ingin kita capai. Kita harus mengenal diri kita dan kemudian terus berusaha menjadi diri kita yang terbaik. William James menyatakan bahwa rata2 manusia hanya mengembangkan 10% dari potensi yang mereka milki, Dale Carnegie mengingatkan betapa spesialnya diri kita dimana setiap dari kita adalah sesuatu yang sama sekali baru di muka bumi ini. Maka mengenali diri dan kemudian mengembangkan potensi adalah mutlak diperlukan sebagai wujud syukur kita atas karunia Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita sekaligus wujud ibadah kita kepada-Nya.

Pencarian Peluang

"We will either find a way or make one"
Kita akan menemukan jalan atau membuat jalan.
-Hannibal-

Ada begitu banyak peluang di muka bumi ini, maka adalah hal yang menggelikan ketika seseorang menjadi pengangguran. Hal yang ironis juga adalah bahwa banyak masyarakat kita yang tidak jeli untuk tekun mencari dan melihat kesempatan, sehingga banyak yang hanya sibuk dan mengutuk keadaan. Padahal jika para pengangguran itu diberi kertas dan pena untuk menuliskan semua jenis pekerjaan yang ada di bawah terik matahari, mereka dapat menuliskannya hingga berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus pekerjaan hanya dalam waktu sekali duduk.

Marwah Daud Ibrahim mengatakan bahwa dirinya mendapatkan keterampilan mencari dan menciptakan peluang sejak masa kanak2." Sejak SD saya sudah membantu memelihara bebek, ke sekolah saya menjual roti dan kacang goreng. Ketika SMP saya memelihara ulat sutera alam, saat SPG saya tinggal di rumah sodara dan rutin membersihkan rumah, saat kuliah menjadi reporter surat kabar kampus dan MC sehingga mendapat dana untuk hidup sehari2. Saat kuliah di Amerika, saya menjadi editor majalah Caraka Media milik KBRI, mengajar Bahasa Indonesia dan bekerja di perpustakaan kampus".

Jujur saya tersenyum membaca cerita Bu Marwah ini, karena saya langsung teringat dengan kehidupan saya sejak kecil yang pernah saya ceritakan di kelas Peradaban Islam dalam keadaan mati lampu di tengah malam, yang membuat seisi kelas tertawa. Saat TK, saya menjual jajanan ringan ke teman2 sepermainan, saat SD saya membuat es lilin dan membawanya ke sekolah untuk di jual, saat pengabdian di Blitar saya menjual siomay dan gorengan yang saya buat sendiri ke para santri, saat kuliah semester awal saya menjadi distributor perusahaan2 Network Marketing dan sekarang saya sedang belajar membangun usaha saya sendiri di bidang fashion muslimah yang saya beri nama AISHA BOUTIQUE. Bismillah, tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah. :)

Penetapan Tujua, Rencana dan Proses Pencapaian

"Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melalui jalan yang sulit.
Seseorang yang tanpa tujuan tidak akan membuat kemajuan walaupun di jalan yang mulus"
-Thomas Carlyle-

Menurut Marwah daud Ibrahim, banyak anak Indonesia yang merumuskan cita2nya secara amat umum, untuk tidak dikatakan kabur, misalnya "menjadi orang yg berguna bagi bangsa dan negara". Lalu apa yang mereka maksud dengan "menjadi berguna bagi bangsa dan negara"? tak ada rincian. Menurut beliau, semestinya pada usia remaja mereka sudah dibiasakan untuk mengurai cita2nya ke dalam hal 2 yang spesifik dan realistis. Misalnya yang dimaksud berguna bagi bangsa dan negara adalah menyediakan beasiswa, membuka kesempatan belajar dan kerja dengan mendirikan lembaga pendidikan atau membuka lapangan pekerjaan ( menjadi pengusaha ),dll. Cita2 berguna bagi bagsa dan negara memang mulia, tapi perlu dirinci supaya ada tolok ukur yang jelas.

Merancang dan memvisualisasi tujuan atau cita2 disertai target spesifik dan detail, lalu menyusun rencana kerja dan benar2 merealisasikannya sesuai tahapan yang telah disusun adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan. Khayalan untuk dapat meraih sukses instan tanpa mau bersusah payah dalam proses  sudah saatnya dibuang jauh2.

4 Resep Sukses Napoleon Hill :
  1. Tulis dengan singkat dan jelas apa yang anda inginkan dalam hidup ( cita-cita )
  2. Kembangkan garis besar rencana anda untuk mencapai tujuan, kemudian bayangkan anda sudah mencapainya
  3. Tetapkan jadwal yang pasti kapan tujuan anda akan dicapai, lakukan langkah demi langkah
  4. Ingatlah selalu tujuan utama dan rencana anda. Ulangilah beberapa kali sehari  dan bersyukurlah atas setiap kemajuan yang didapat.

Penyusunan Peta Hidup dan Pengelolaan Waktu

"In order to success, you must have a long-term focus"
-Anthony Robbins-

Setelah menetapkan tujuan yang akan dicapai, maka tahap selanjutnya yang tidak kalah pentingnya, terang beliau, adalah menyusun peta hidup. Beliau mengatakan bahwa, anggaplah anda akan berangkat ke suatu tujuan, melewati suatu rute perjalanan tertentu, dengan sebuah kendaraan yang anda kemudikan sendiri. Perencanaan "perjalanan" anda tersebut sebaiknya tertulis dalam suatu "peta". Peta dimaksud lengkap dengan target2 terukur tentang apa-apa yang diperkirakan bakal terjadi, sepanjang perjalanan menuju tujuan itu.

Anthony Robbins, seorang motivator kelas dunia mengajak kita untuk melihat 10 tahun di masa lalu dan merencanakan 10 tahun ke depan. Ia mengajak kita untuk merenung sejenak. Dimanakah kita sepuluh tahun yang lalu? apa harapan dan impian kita ketika itu? siapa teman2 kita? lalu mari kita melihat ke depan, akan dimanakah atau menjadi apakah kita 10 atau 20 tahun yang akan datang??

Marwah Daud Ibrahim melihat bahwa kemampuan menyusun peta hidup sekaligus membantu kita untuk berpikir panjang. hal ini penting, karena menurut Prof. Toshiko Kinoshita, dari Universitas Waseda, Jepang, Orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Beliau mengatakan bahwa "Orang Indonesia tidak pernah pernah berpikir panjang. Sedihnya lagi, karakter seperti itu bukan hanya di kalangan masyarakat semua lapisan, tapi juga politisi dan pejabat pemerintah, hal ini kemudian menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan China dan negara2 Asia lainnya".
( Kompas, 22 Mei 2002).

Sekilas terlihat ada generalisasi dalam pernyataan  Prof.Kinoshita ini, nyatanya Indonesia masih memiliki orang2 seperti Bu Marwah daud Ibrahim,Prof. Laode M. Kamaluddin ( Rektor Unissula hehehhe ), Pak Jusuf Kalla, dan orang2 visioner lainnya. Namun adalah sebuah bahan instropeksi yang sangat mendalam  bagi kita ketika seorang asing yang berilmu tinggi sekaliber profesor, sampai bisa berbicara secara general seperti itu,hal ini menunjukkan bahwa "kebiasaan berpikir pendek" di berbagai lapisan di indonesia telah mencapai titik keakutan yang sangat parah dan berbahaya yang pada gilirannya sangat diperlukan adanya transformasi mindset, itu yang dapat saya ambil dari peryataan Prof. Kinoshita tersebut.

Selanjutnya, peta hidup yang meliputi seluruh kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan, harus dilengkapi dengan rencana yang lebih detail : 5 tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, bahkan harian.
Kesuksesan kita mencapai tujuan dan target sasaran sangat ditentukan dari apa yang kita lakukan hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Sukses bukan berarti segala upaya kita harus sempurna. Keberhasilan mendaki gunung tidak ditentukan oleh kenyataan bahwa kita tidak pernah jatuh, akan tetapi ditandai oleh kemampuan dan kemauan kita untuk senantiasa bangkit dari jatuh untuk terus melangkah sampai mencapai puncak.:)

Perluasan Wawasan dari Pikiran dan Pengalaman Orang Lain

"saya bisa belajar bahkan dari bayi yang masih menyusu pada ibunya"
-Mahatma Gandhi-

Saat belajar di Network Marketing, teman sekaligus Upline saya, seorang pemuda yang memiliki cita2 besar, Andi Sukmawan, mengatakan bahwa, "saya, untuk menilai seseorang akan sukses atau tidak di industri ini mudah dan simpel saja koq, saya lihat dari kemauan belajarnya", tuturnya. Dan saya sependapat dengannya. untuk mencapai keberhasilan, kita seharusnya siap untuk belajar dari siapapun mengenai apapun yang bermanfaat.

Anthony Robbins, tulis Marwah Daud Ibrahim, bahkan meyakini bahwa cara paling efektif yang menghemat energi dan waktu untuk mencapai yang kita inginkan adalah menemukan seseorang yang telah mencapai apa yang kita inginkan. Dari sana kita bisa belajar watak dan karakter, kebiasaan hidupnya, dan kiat2 keberhasilannya. Dengan meniru proses yang mereka lalui, kita bisa memiliki keyakinan untuk berhasil.

Marwad Daud Ibrahim mengatakan bahwa sejak kecil beliau hobi membaca biografi dan pemikiran orang2 besar dunia. "sejak SD saya sudah membaca pemikiran Plato, Aristoteles, Stuart  Mill, Montessori, Benjamin Franklin, Gandhi dan banyak lagi lainnya. Buku2 itu saya dapat dari sekolah yang dipimpin ayah saya". (Dan dengan malu saya katakan bahwa saya baru berencana membaca buku2 itu semester depan, di bangku semester 3 kuliah Peradaban Islam. Bahkan sampai detik ini saya belum menemukan karya Plato yang saya cari, dan baru mendapat satu buku dalam Bahasa Inggris tentang Emanuel Kant dari dosen saya yang sangat baik hati yaitu Ka Ahmad Mujib El-Shirazy. Ketika membaca ulang buku Bu Marwah ini saya berpikir, jika suatu hari saya menulis buku, apakah orang2 akan sudi membacanya ketika saya mengatakan bahwa saya baru membaca karya Plato di bangku kuliah semester 3..????!! bahkan buku itu saja sangat sulit dicari di Semarang ini, dan Bu Marwah dapat dengan mudah mendapatkannya di pedalaman Sulawesi Selatan..!!!sungguh lucu :D,ini pasti ada yang salah dengan saya, saya pasti kurang gencar mencarinya.)

Kembali ke MHMMD, Marwah Daud Ibrahim mengatakan bahwa kita dapat memperluas cakrawala berpikir kita dengan belajar dari pikiran dan pengalaman orang lain. Beliau menceritakan bagaimana bacaan tentang Benjamin Franklin mempengaruhi dirinya, beliau belajar banyak darinya tentang nilai dan kebiasaan hidupnya, inovasi2nya yang begitu banyak termasuk membuat Universitas Pensylvania di Philadelphia. " Darinya saya belajar tentang perlunya berinovasi. saya bahkan bisa berangkat ke Amerika Serikat karena membaca di brosur tentang kesempatan belajar Bahasa Inggris di Universitas Pensylvania yang dibangunnya. Brosur tersebut saya temukan tertempel di papan pengumuman Fakultas Kedokteran Unhas. 3 tahun brosur tersebut saya bawa2 terus dan memotivasi saya untuk kursus dan  menemukan cara untuk bisa menuju ke kota Benjamin Franklin. Musim gugur 1979, saya sungguh2 tiba disana. Patung dirinya di halaman kampus dan kutipan kata2 mutiara yang dituliskan di pigura2 dan banyak tertempel di ruang pertemuan kampus mengingatkan saya dengan kalimat2 yang saya baca dengan lampu minyak tanah di dusun kecil saya di Pacongkang (sulsel). Tanpa membaca buku tentangnya, kemungkinan saya tidak tertarik mengambil brosur, dan tidak termotivasi untuk ke Philadelphia, Amerika Serikat".

Itu hanya sedikit tentang Benjamin Franklin, dalam kitab suci penuh dengan kisah Nabi2 dan perjalanan hidup mereka. Ada kisah Nabi Ibrahim yang berjuang untuk kalimat tauhid, kisah Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Syuaib, Ratu Bilqis, dan yang lainnya semua memberikan kita pelajaran. Termasuk kisah keangkuhan Fir'aun, ketabahan Ashabul kahfi, nasehat Luqman, ketabahan Ismail, integritas moral Yusuf, belum lagi kisah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang penuh teladan dan inspirasi.

Dalam mengelola hidup dan merancang masa depan, kita patut meneladani kisah sukses para nabi dan rosul, keluarga dan sahabat2nya. Juga sangat penting untuk mencari inspirasi dari tokoh2 besar dunia. Membaca kisah hidup tokoh2 dunia di berbagai sektor kehidupan, jelas bisa menginspirasi atau memotivasi kita untuk-kalo perlu-menciptakan karya yang lebih monumental dari mereka, begitu tuturnya.:)

*************
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini...:) 
tulisan ini semata2 hanya didasari semangat  "Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang2 yang beriman dan beramal shaleh dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran" (QS.Al-'Asr)

Wallahua'lam Bissawwab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar