Rabu, 28 Maret 2012

Paper Mawapres-ku 2012

APLIKASI DIGITAL MULTIMEDIA BROADCASTING (DMB) 
UNTUK RISET DAN PENGEMBANGAN MOBILE LEARNING DI INDONESIA

Oleh : Marlis Herni Afridah
ABSTRACT

DMB applications for research and development of mobile learning is a new breakthrough in the field of educational technology that may be developed in Indonesia. DMB is currently developed in South Korea. Mobile learning can be a solution to the educational problems in Indonesia, which is an uneven education. As a result, uneven education has affected Indonesia as a whole. High quality education is still concentrated in big cities, while still many areas that have not been able to enjoy a high quality education, actually education is the right of every citizen. Uneven education in various parts of Indonesia causing intellectual inequality which then have many implications to the various sectors of life, make one area so advanced, and other areas so far behind. This such imbalance is a problem for Indonesia as a whole.
Mobile learning can be adopted to solve these problems. Educational technology is designed as a means 'to reach the unreachable'. By implementing mobile learning, Indonesia can equalize education to all corners of the region. It's not impossible these days because Indonesia’s generation is the generation that has been familiar in the field of information technology. Ones, mobile phone can only be enjoyed by the rich people. Now, everyone can use it. No depends to the economy class. Mobile phones have become an integral part of everyday life. Now mobile phone users in Indonesia reached 170 millions and Internet users reached 57.8 millions. Indonesia’s generation today is a new generation. They are the cyber generation with different characteristics from the previous one. Based on this fact, the implementation of mobile learning is veru possible. The Efforts to equilize the education to every corner of Indonesia can be realized.

However, mobile learning is a concept of technology for education. To realize the real implementation of this technology it is really necessary to bring the benefits of the integrated support of the various components involved. The government needs to make policies and regulations to accommodate the implementation of mobile learning, so that its application purpose can be achieved and on target. The parties involved in information technology such as academics, practitioners and experts need to build synergies to educate Indonesia’s society in the field of cyber culture so that the society becomes literate in technology, so they are not left behind in the global era. After all, any sophisticated technology that would be implemented, it will not mean anything if people can not use it properly. And the society will only be able to take advantage if they have a competent knowledge of these technologies.

Mobile learning is a new breakthrough in the field of education that will help Indonesia gained glory in the future if it is applied judiciously and responsibly by all parties involved.

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Manusia pada masa lampau hidup dengan cara berpindah-pindah atau nomaden. Mereka singggah di satu tempat dan kemudian menuju tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dunia berubah, dan revolusi industri terjadi. Setelah revolusi industri, manusia cenderung banyak menghabiskan waktunya di gedung-gedung, baik sekolah, perusahaan atau kantor pemerintahan. Manusia tidak lagi hidup nomaden.

Perkembangan teknologi informasi kini kembali mengubah cara hidup manusia. Laju perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah mengubah paradigma masyarakat dalam mendapatkan informasi. Revolusi digital terjadi melalui tiga hal penting. Pertama, melalui jaringan komputer. Dengan media ini manusia dapat memperoleh informasi dengan pencapaian yang dramatis dimana mereka dapat terhubung dengan banyak orang di berbagai belahan dunia. Kedua, Selagi seseorang berada di suatu tempat, mereka tetap dapat terkoneksi dengan orang-orang terdekatnya baik keluarga, saudara dan kolega yang berada di tempat berbeda. Hal ini mengubah pola hidup dan kebiasaan manusia dimana mereka dapat melakukan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu. Ketiga, sumber-sumber informasi dapat dijangkau kapan saja dan dimana saja. Tidak asa syarat bagi seseorang untuk mendatangi secara khusus suatu tempat untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Semua perubahan ini menuntut perubahan dalam bidang pendidikan. (The Mobile Learning Edge Hal.xi)

Generasi hari ini adalah generasi cyber yang multitasking. Mereka adalah generasi nomaden baru yang ada di bumi. Mereka bekerja dan di saat yang sama mereka belajar di universitas. Begitu juga pelajar atau mahasiswa, disamping belajar mereka juga bekerja paruh waktu. Meskipun demikian, mereka dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan tetap mengerjakan berbagai urusannya tanpa harus terhalang ruang dan waktu.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat ini menuntut respon yang bijaksana dari semua komponen terutama negara dengan segala kebijakannya. Indonesia harus memberi perhatian khusus tentang fenomena ini. Hal ini sangat penting karena Indonesia terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau kecil yang belum menikmati pendidikan secara maksimal, padahal sejatinya pendidikan yang baik adalah hak setiap warga negara. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas masih terpusat di kota-kota besar.

Pengembangan aplikasi Digital Multimedia Broadcasting  untuk membangun mobile learning menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa pendidikan berkualitas dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Teknologi ini ada untuk menembus batas ruang dan waktu. To reach the unreachable. Untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum pernah terjangkau sebelumnya. Dengan aplikasi DMB dalam bidang pendidikan, tidak mustahil bahwa pendidikan berkualitas dapat dicapai di seluruh pelosok Indonesia.

Mobile learning sejatinya dapat diaplikasikan karena fenomena saat ini sangat mungkin untuk merealisasikannya. Pada tahun 2011 di Indonesia, penggunaan telepon selular mencapai 170 juta dan pengguna internet mencapai 57,8 juta. Penggunaannya diperkirakan akan naik 50% sekitar satu sampai dua tahun ke depan. Generasi Indonesia hari ini adalah generasi cyber, pendidikan berbasis mobile learning dapat diimplementasikan guna mengusahakan pemerataan kualitas pendidikan demi mencapai kejayaan bangsa di masa depan.

B.       Rumusan Masalah 

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini adalah “Apakah solusi untuk menjawab permasalahan pendidikan yang tidak merata di Indonesia dan bagaimana pemanfaatan mobile learning sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah pendidikan yang tidak merata di berbagai wilayah Indonesia?”

C.      Deskripsi Singkat

Digital Multimedia Broadcasting (DMB)

Digital Multimedia Broadcasting (DMB) adalah teknologi transmisi radio digital yang dikembangkan di Korea Selatan. Teknologi ini merupakan proyek IT nasional yang bertujuan untuk mengirimkan konten multimedia seperti TV, radio dan datacasting ke perangkat mobile seperti ponsel, laptop, tablet, dll. Teknologi ini sering disebut sebagai tv ponsel karena teknologi ini mendukung munculnya siaran tv di telepon seluler. DMB dikembangkan di Korea Selatan sebagai teknologi digital untuk menggantikan radio FM. DMB dapat beroperasi melalui satelit (SDMB) dan melalui terestrial transmitter (TDMB). (Wikipedia.org)

S-DMB menggunakan satelit dengan dengan S-band (2.605 – 2.655 GHz) dan T-DMB menggunakan sebuah jaringan seperti selular dengan kanal-kanal VHF yang tidak digunakan (170-240 MHz). Kedua DMB tersebut memerlukan repeater / gapp filler untuk menjangkau area dalam gedung dan area bawah tanah. Jangkauan area S-DMB adalah secara nasional sedangkan T-DMB hanya secara regional.

Telpon selular DMB merupakan telpon selular pertama yang dapat menerima sinyal-sinyal dari satelit dan pemancar di bumi. pengguna telpon selular dapat menggunakan layakan DMB dengan men-upgrade telpon selular untuk layanan DMB. Pengguna DMB dapat menikmati layanan suara dengan kualitas stereo, gambar diam atau bergerak dan layanan data streaming dimanapun di seluruh negara di dunia saat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam.

Mobile Learning

Definisi-definisi awal mengartikan mobile learning sebagai aktivitas belajar yang dimediatori oleh alat mobile seperti hp, laptop, tablet, dll. O’Malley Et Al (2003) menyatakan bahwa mobile learning adalah :

“Any sort of learning that happens when the learner is not at fixed, predetermined location, or learning that happens when the learner takes advantage of learning opportunities offered by mobile technologies”
    ( The Mobile Learnig Edge by Gary Woodill,Ed.D)

Banyak definisi lain yang disampaikan oleh para pakar di bidang mobile learning, yang secara keseluruhan sepakat bahwa mobile learning adalah suatu aktivitas pembelajaran atau pendidikan yang dilakukan melalui perangkat mobile dimanapun dan kapanpun tanpa terikat oleh ruang dan waktu.

D.      Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memaparkan potensi aplikasi DBM untuk riset dan pengembangan mobile mearning dalam rangka meningkatkan upaya pemerataan pendidikan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia. Memaparkan bahwa zaman telah berubah, dan metode penyampaian pendidikanpun dituntut untuk berubah mengikuti karakteristik generasi yang hidup dewasa ini dan generasi masa depan, yaitu generasi cyber.

E.       Manfaat Penulisan

Manfaat yang ingin dicapai dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah memaparkan kepada masyarakat bahwa zaman telah berubah. Laju informasi begitu cepat. Karakteristik generasi hari ini dan masa depan juga telah berubah. Mereka memiliki budaya yang berbeda dalam mengakses informasi dibanding generasi terdahulu. Di samping itu, Geografi Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut solusi bagi pemerataan pendidikan berkualitas mulai dari pusat hingga ke pulau-pulau terkecil di pelosok Nusantara. Penulisan ini diharapakan bermanfaat dapat memaparkan peran dan aplikasi DMB untuk riset dan pengembangan mobile learning di Indonesia

BAB II
TELAAH PUSTAKA

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) Pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri. Pendidikan ditujukan bagi peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari penjelasan tersebut, tujuan pendidikan dapat dipahami dengan jelas. Sistem pendidikan konvensional yang selama ini diaplikasikan dalam dunia pendidikan sedikit banyak telah mencapai tujuan pendidikan tersebut. Namun zaman berubah. Fenomena dan karakteristik generasi masa kini dan masa depanpun berubah. Perubahan ini menuntut perubahan dalam berbagai sistem kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Di samping pendidikan dengan sistem konvensional yang selama ini berjalan, perlu dikembangkan sistem pendidikan berbasis mobile, yang dikenal dengan istilah mobile learning guna mengakomodir kebutuhan pendidikan yang lebih mendesak baik pada saat ini maupun di masa mendatang.( Gunawan, 2012)

Kini bumi tidak lagi bulat, tetapi datar. Secara fisik bumi memang berbentuk bulat. Tetapi pada kenyataannya bumi adalah datar karena dengan berkembangnya teknologi informasi dan digital, kini tidak ada lagi batasan ruang dan waktu dalam segala bidang kehidupan. Seseorang yang hidup di satu negara dapat berkomunikasi interaktif secara langsung dengan orang di negara lain. Tidak ada lagi batasan. Dunia saat ini adalah dunia yang datar. (Thomas Friedman, 2005).

Dengan kenyataan ini, konsep pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terutama dalam bidang pendidikan sebagai bidang yang paling fundamental dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas mutlak diperlukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan International Telecomunication Union melalui World Summit on the Information Society telah sepakat untuk mencanangkan pada tahun 2015 sebagai berikut :
1.      Menghubungkan universitas, Akedemi, SMA, SMP dan SD dengan TIK.
2.      Menghubungkan pusat ilmu dan penelitian dengan TIK.
3.      Menghubungkan perpustakaan umum, pusat kebudayaan, museum, kantor pos, dan Kearsipan dengan TIK.
4.      Menghubungkan seluruh Instansi Pemerintah dengan membuat website dan email.
5.      Memastikan lebih dari setengah penduduk dunia mempunyai akses dengan TIK. (Unissula, 2011)

Menyadari perubahan besar ini, dan menyadari posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari puluhan ribu pulau baik besar maupun kecil, Indonesia harus bersiap diri membangun mobile learning sebagai upaya pemerataan pendidikan berkualitas yang selama ini belum tercapai dan masih terpusat di kota-kota besar. Pulau-pulau kecil yang selama ini belum mendapat akses pendidikan  berkualitas harus dipikirkan solusinya secara serius sehingga tidak terjadi ketimpangan intelektual di Indonesia. Pulau-pulau yang belum terjangkau selama ini harus dapat dijangkau. DMB dan mobile learning adalah terobosan di bidang teknologi yang akan mampu menjawab permasalahan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, utamanya dalam menyelesaikan masalah ketidak merataan pendidikan berkualitas. DMB dan mobile learning ada untuk menjangkau yang tidak terjangkau. To reach the unreachable. ( Laode M. Kamaluddin, 2011)

Generasi Indonesia telah menjadi bagian dari masyarakat global dimana setiap komponen telah bersentuhan dengan teknologi informasi dan perangkat mobile. Jika dahulu telpon selular hanya dapat dinikmati oleh golongan kelas atas, kini semua golongan dalam masyarakat telah menikmati fasilitas telpon selular baik baik golongan menengah ke atas maupun menengah ke bawah. Bahkan pengemis di jalanan kota besar, masing-masing mereka menggunakan fasilitas mobile yaitu telpon selular yang bisa menghubungkan mereka dengan keluarga dan rekannya dimanapun dan kapanpun. Data menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 57,8 juta jiwa dan pengguna telpon selular mencapai 170 juta jiwa. Dewasa ini, generasi muda pada usia 21 tahun rata-rata menghabiskan 5000 jam untuk bermain video game, bertukar sekitar 250.000 email, pesan singkat dan sms, 10.000 jam penggunaan telpon selular dan 3.500 jam online. Data ini menunjukkan bahwa mobile learning adalah keniscayaan bagi generasi cyber saat ini.( Marc Prensky, 2006)

Mobile learning muncul sebagai hasil dari proses sejarah yang panjang di bidang teknologi informasi. Teknologi semacam telegrap dan radio adalah cikal bakal dari munculnya mobile learning. Pada tahun 1906 Lee de Forest, seorang pakar radio membuat eksperimen dengan meletakkan telpon di dalam mobil bergerak di New York City. Pada tahun 1910 di Swedia, seorang pakar listrik Lars Magnus Ericsson membangun koneksi telepon di dalam mobil istrinya. Jenis telepon pada periode awal ini bukanlah bagian dari teknologi mobile, tapi merupakan cikal bakal perubahan dari teknologi yang cenderung statis menjadi teknologi bergerak atau mobile. (Agar, 2005)

Kini teknologi mobile telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Teknologi ini terdiri dari berbagai macam perangkat yang bisa terhubung di berbagai jaringan yang berbeda. Perangkat-perangkat tersebut diantaranya :
Ø  Telepon selular
Ø  Personal Digital Assistants (PDAs)
Ø  Smartphone
Ø  Notebook dan Netbook
Ø  Kamera digital
Ø  Tablet pc
Ø  Pena digital
Ø  Radio internet
Ø  Lain-lain

Tahun
Peristiwa
1894
Dr. Nikola Tesla menciptakan radio
1901
Guglielmo Marconi mengirim sinyal kode morse ke seberang Samudera Atlantik
1906
Lee de Forest, seorang ahli radio mengirim pesan radio ke mobil yang sedang bergerak di New york City
1910
Di Swedia, Lars Ericsson menginstal koneksi telepon di mobil istrinya
1946
AT&T meluncurkan layanan telepon bergerak di Amerika Serikat
1967
Radio polisi pertama dibuat oleh Motorolla untuk Departemen Kepolisian Chicago
1968
Alan Kay mengusulkan Komputer Pribadi Portable untuk anak-anak yang dikenal dengan Dynabook
1973
Peneliti Motorolla, Martin Cooper menempatkan telpon selular pertama di jalan New York City
1979
Jaringan telepon selular pertama diinstal di Tokyo
1984
The Psion Organiser meluncurkan komputer jinjing pertama
1990
Prof. Mike sharples dari Universitas Nottingham memulai program riset pertama di bidang mobile learning
1992
Apple memperkenalkan “Newton”, asistem pribadi digital pertama (PDA)
1996
Nokia memperkenalkan 9000 Comunicator, kombinasi telepon selular bergerak dengan PDA
2000
Clark Quinn mendefinisikan mobile learning dalam sebuah artikel di LINE Zine
2001
Richard Nantel menulis laporan berjudul “How to Determine Your Readiness to Mobile E-Learning”
2002
Konferensi mLearn pertama diselenggarakan di Universitas Birmingham
2007
Asosiasi Internasional untuk Mobile learning  (IAMLearn) dibentuk
 Tabel 1.  Sejarah mobile learning (Sumber : The Mobile Learning Edge Hal.6)

Teknologi mobile learning memungkinkan komunikasi dua arah antara guru dan murid. Dimana guru dapat memberikan informasi dan bimbingan pendidikan kepada murid, dan di saat yang sama murid juga dapat memberikan informasi secara seimbang kepada guru. Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan konvensional dimana guru sering kali mendominasi kelas, informasi dikuasai oleh guru dan murid cenderung pasif dan hanya menerima informasi yang diberikan oleh guru. Mobile learning menawarkan interaksi dua arah secara real time. (Woodill, 2011)

Mobile learning adalah terobosan teknologi di bidang pendidikan untuk peningkatan mutu sebaran pendidikan di masa depan sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang terdidik secara merata. Karena pendidikan adalah faktor terpenting yang harus dibangun sebelum membangun bidang lainnya. (Unissula, 2011)

BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi diperoleh melalui studi kepustakaan ( literature review ). Data dan informasi yang diperoleh berupa referensi akademik yaitu buku, internet, jurnal, dan surat kabar. Referensi yang berkaitan dengan Digital Multimedia Broadcasting dan Mobile Learning, kebijakan pemerintah di bidang teknologi informasi dan pendidikan yang dikumpulkan sesuai dengan topik DMB untuk pendidikan di Indonesia. Sumber data selanjutnya dilengkapi hasil wawancara dengan Rektor Unissula, pakar DMB, dan para ahli di bidang teknologi informasi di Unissula.

B.  Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara kualitatif. Analisis data kualitatif bertujuan untuk proses penggalian makna, penggambaran, penjelasan, dan penempatan data pada konteks masing – masing (Arikunto dan Jabar, 2009:165). Data dan informasi yang terkumpul selanjutnya diseleksi untuk mendapatkan referensi terpercaya. Sumber referensi selanjutnya menjadi landasan teori yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Landasan teori yang telah ada dibahas sesuai dengan kondisi nyata terkait dengan pembahasan karya tulis ilmiah untuk mendapat kesimpulan dan rekomendasi.

C.  Analisis – Sintesis

Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data, penulisan dimulai dengan mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pendidikan di Indonesia. Yaitu pendidikan berkualitas yang tidak merata. Pendidikan yang tidak menjangkau seluruh pelosok Indonesia sehingga terjadi ketimpangan intelektual dimana pendidikan berkualitas hanya terpusat di kota-kota besar saja.

Setelah analisis dilakukan, diberikan sintesis mengenai upaya penerapan aplikasi DMB untuk riset dan pengembangan mobile learning di Indonesia sehingga pendidikan berkualitas dapat menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau. Sehingga pemerataan pendidikan berkualitas dapat dicapai dan tidak lagi hanya terpusat di kota-kota besar.

D.  Kesimpulan dan Rekomendasi

Menyimpulkan semua yang telah dibahas dalam analisis dan sintesis. Setelah itu, memberikan rekomendasi ke depan dalam upaya pengembangan aplikasi DMB untuk riset dan pengembangan mobile learning di Indonesia agar mencapai hasil yang optimal.  

 BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

A.      Analisis



Gambar 1. Indonesia dalam perspektif global

Indonesia adalah negara yang besar dengan posisi geografis yang sangat strategis. Indonesia kaya akan sumber daya yang berpotensi menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar, yang memimpin bukan hanya di Asia tetapi juga di dunia. Namun demikian, dengan segala potensinya yang luar biasa, Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang, jauh dari kata maju. Hal ini terjadi akibat begitu kompleksnya masalah yang dihadapi Indonesia mulai dari rendahnya kualitas SDM, tingginya angka korupsi, tidak efisiennya birokrasi, dan masih banyak faktor lainnya. Namun di atas semua itu, masalah terburuk yang dialami Indonesia sebagai dasar dari munculnya masalah-masalah yang lain adalah masalah pendidikan.

Kualitas pendidikan di Indonesia menunjukkan ketimpangan yang luar biasa antar daerah, antar pulau. Pendidikan berkualitas cenderung hanya bisa ditemui di kota-kota besar. Sedangkan di daerah terpencil kualitas pendidikan masih sangat memprihatinkan.

Adalah kenyataan yang harus dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya bahwa secara geografis Indonesia terdiri dari sekitar 16.000 pulau baik besar maupun kecil. Krisis kualitas pendidikan telah lama menimpa begitu banyak wilayah di Indonesia. Banyak sekali pulau-pulau yang masih belum dapat menikmati pendidikan berkualitas. Banyak sekali daerah yang belum terjangkau dan mendapat haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak. Masalah pendidikan yang tidak merata telah lama menjadi masalah dalam dunia pendidikan Indonesia.

Klasifikasi
2008/2009
2009/2010
2010/2011
SMP N
4.493
4.797
5.034
SMP S
5.746
5.965
6.002
Total
10.239
10.762
11.036

Tabel 2. Jumlah Sekolah Menengah di Indonesia

Pulau
Jumlah Sekolah Menengah
Jawa
4.482
Sumatera
3.298
Kalimantan
917
Sulawesi
1.125
Pulau-pulau di Wilayah timur
1.214
Total
11.036

Tabel 3. Jumlah Distribusi Sekolah Menengah di Indonesia
Tabel di atas menunjukkan sebaran sekolah menengah di beberapa pulau besar di Indonesia. Tabel menunjukkan ketimpangan distribusi dimana Jawa memiki banyak sekali sekolah menengah, sekitar 1/3 lebih dari total seluruh sekolah menengah yang ada di Indonesia.



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Dengan kenyataan di atas, nampak belum ada sinergi antara infrastruktur teknologi informasi dengan layanan pendidikan. Upaya mewujudkan suatu tatanan pendidikan yang lebih baik dan merata mutlak diperlukan. Perlu adanya teknologi pendidikan yang dapat mengcover seluruh wilayah Indonesia sehingga dapat dipastikan bahwa tiap wilayah mendapatkan kualitas pendidikan yang adil dan merata. Bukan hanya itu, perlu juga adanya kebijakan Pemerintah yang mendukung upaya tersebut sehingga upaya pemerataan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia memiliki pelindung yang jelas dalam perspektif hukum. Karena upaya tersebut membutuhkan sinergi dari semua pihak, dan Pemerintah adalah pihak yang sangat berpengaruh dalam mempromosikan dan melindungi upaya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.  

Dengan demikian, masalah multimedia berkaitan dengan sektor pendidikan dewasa ini di Indonesia adalah :
Ø  Perlu dukungan kebijakan baik lokal maupun nasional
Ø  Perlu alokasi frekuensi untuk pendidikan dan riset
Ø  Infrastruktur T-DMB dan maintenance
Ø  Penguasaan teknologi T-DMB
Ø  Kurikulum masih konvensional
Ø  Konten-konten pembelajaran berbasis DMB belum ada
Ø  Tenaga pengajar belum kompeten dengan DMB Learning di Indonesia
Ø  Budaya belajar mengajar masih konvensional
Ø  Perlu investasi awal
Ø  Belum ada ‘pilot project’ DMB Learning di Indonesia
Ø  Perlu success story untuk DMB Learning

B.       Sintesis

Pendidikan adalah pondasi pertama dalam membangun generasi terbaik. Indonesia hanya akan maju jika telah memiliki suatu sistem pendidikan yang tepat dan dapat berfungsi sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu bahwa peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara sehingga dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Adalah Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang yang menyadari sejak awal akan adanya transformasi besar-besaran di bidang teknologi. Dunia dewasa ini berbondong-bondong beralih dari analog ke digital. Jika Indonesia tidak mau menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi global, mau tidak mau Indonesia akan tertinggal. Dengan demikian, upaya migrasi dari analog ke digital harus dilakukan oleh Indonesia. Karena transformasi total di bidang teknologi ini hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sebagai universitas yang sadar akan permasalahan bangsa Indonesia, yaitu kualitas pendidikan yang tidak merata dan ketimpangan intelektual akibat luas dan kompleksnya kondisi geografi Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau kecil, Unissula mencoba mencari solusi sebagai usaha untuk meningkatkan pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Unissula memiliki impian bahwa pendidikan yang berkualitas bisa dinikmati di setiap jengkal wilayah Indonesia dimanapaun dan kapanpun sehingga terwujud pemerataan pendidikan dan kejayaan Indonesiapun dapat diraih.

Untuk merealisasikan impian tersebut dan menjawab permasalahan bangsa di bidang pendidikan, Unissula mengadopsi suatu teknologi yang telah diimplementasikan di Korea Selatan, yaitu Digital Multimedia Broadcasting (DMB) untuk riset dan pengembangan mobile learning di Indonesia dengan roadmap pengembangan ICT sebagai berikut :


Gambar 3. Roadmap pengembangan ICT Unissula

Roadmap dibuat dalam kurun waktu 4 tahun dengan melalui beberapa tahapan sebagaimana yang deskripsikan dalam gambar. Meliputi tahap konstruksi broadcasting dasar dan sistem infrastruktur IT, pengimplementasian layanan cyber internal dan mempersiapkan integrasi berbagai unit, selanjutnya pada tahun ketiga mulai memprakarsai implementasi layanan publik dan kerjasama dengan pihak luar dan pada tahun keempat pencapaian fungsi layanan cyber sebagai dukungan manajemen menuju realisasi Unissula sebagai universitas kelas dunia yang dapat mencapai tujuannya baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Tujuan jangka pendek tersebut meliputi :
Ø  Mempersiapkan implementasi ‘DMB Learning’ di Indonesia
Ø  Merumuskan konsep kurikulum pendidikan yang sesuai dengan DMB Learning
Ø  Membangun konten-konten belajar mengajar yang sesuai dengan format DMB Learning
Ø  Membangun aplikasi administratif yang mendukung DMB Learning
Ø  Melakukan uji coba DMB Learning pada infrastruktur T-DMB yang telah dibangun
Ø  Mengukur kualitas layanan T-DMB untuk DMB Learning pada infrastruktur TDMB

Sedangkan tujuan jangka panjang meliputi :
Ø  T-DMB Unissula untuk Pendidikan akan diadopsi sebagai model bagi Indonesia (aspek aplikasi, teknis, ekonomis dan sosial)
Ø  TDMB Unissula untuk model pendidikan akan menjadi alat yang dapat diandalkan untuk mencapai daerah yang tidak terjangkau. To reach the unreachable. Teknologi ini akan menyelesaikan apa yang selama ini menjadi permasalahan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, yaitu pendidikan yang tidak merata melalui pengembangan mobile learning yang dapat menjangkau seluruh pelosok wilayah Indonesia.
Ø  Standardisasi model layanan DMB

Riset DMB untuk pendidikan akan membawa banyak manfaat, diantaranya :
Ø  akan menjadi success story dari model pembelajaran yang efektif dan efisien di Indonesia.
Ø  Untuk menyebar luaskan kesempatan pendidikan kepada lebih banyak orang, di daerah terpencil sekalipun.
Ø  Memudahkan akses pendidikan tanpa dibatasi masalah jarak, waktu maupun biaya.
Ø  Proses belajar mengajar menjadi lebih efisien yang selanjutnya dapat mengakselerasi kemajuan pembangunan baik lokal, nasional maupun regional.

Aplikasi DMB untuk riset dan pengembangan mobile learning di Indonesia bukan hanya dapat menyelesaikan permasalahan akan ketidak merataan pendidikan di Indonesia, tetapi juga memberikan keuntungan dan kemudahan bagi dosen dan mahasiswa atau guru dan murid. Keuntungan bagi dosen / guru diantaranya adalah dapat memberikan pelatihan melalui ruang kelas virtual, dapat memaksimalkan proses pembelajaran, dapat mempersiapkan bahan pembelajaran dalam berbagai format sesuai kebutuhan, dapat diakses melalui telepon selular dan internet dan interaktif dengan siswa kapanpun dimanapaun, dapat berdiskusi dengan mahasiswa secara real time, dapat mengunggah materi pembelajaran secara real time, dan informasi akademis di-update tiap detik.

Sedangkan bagi mahasiswa atau murid, keuntungan yang didapat adalah memaksimalkan pembelajaran melalui perangkat telepon selular dan internet. Mereka dapat mengakses pemberitahuan dan informasi akademik secara real time lewat SMS, mereka dapat melihat informasi akademik yang update setiap detik, dapat berinteraksi dengan dosen atau guru kapan saja dan dimana saja, dapat berdiskusi dengan pengajar secara real time, dapat belajar dimana saja, dan dapat mengakses mata kuliah atau bahan pembelajaran secara real time dan up-to-date.

Mobile learning dapat menjawab permasalahan bangsa berkaitan dengan pendidikan yang tidak merata. Mobile learning juga menjawab tantangan perubahan zaman, perubahan karakteristik generasi cyber dan generasi masa depan yang dalam berbagai aspek sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Diantara realitas tentang generasi cyber yang diadopsi dari riset Rainie pada tahun 2006 adalah fakta bahwa mereka :
Ø  Kebanyakan dari mereka adalah penikmat video game. Hal ini membawa perbedaan harapan, karakteristik dan cara mereka dalam belajar, bekerja dan mengejar karir.
Ø  Mereka melek teknologi sekalipun tidak selalu melek akan media.
Ø  Mereka adalah pembuat konten yang handal, hal ini mempengaruhi negaranya berkaitan dengan privasi dan kepemilikan.
Ø  Mereka adalah generasi multitasking yang cenderung melakukan banyak hal sekaligus pada saat yang sama.
 
Gambar 4. Evolusi perangkat mobile

Gambar di atas menujukkan evolusi dari berbagai perangkat. Dahulu, satu prangkat hanya memiliki satu fungsi saja. Tapi sekarang, satu perangkat dapat memiliki banyak fungsi sekaligus.

Mobile learning pada saatnya akan menjawab kebutuhan generasi baru dengan karakteristik cyber, dan sekaligus menjawab permasalahan berbagai bangsa di dunia khususnya Indonesia dalam upaya pemerataan pendidikan yang berkualitas ke berbagai wilayah. Pyok besar ini tentu tidak akan dapat berjalan optimal jika tidak didukung oleh semua komponen yang terlibat baik pemerintah, dunia akademik maupun swasta. Pemerintah harus secepatnya membuat regulasi yang jelas tentang teknologi ini sehingga kemudian teknologi mobile learning dapat diaplikasikan oleh berbagai pihak yang menyelenggarakan proses pendidikan di Indonesia. Dukungan kebijakan sangat penting untuk menentukan bagaimana posisi dan peran teknologi ini ke depan, apakah dapat benar-benar bermanfaat bagi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik ataukah tidak.


BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Aplikasi DMB untuk riset dan pengembangan mobile learning adalah terobosan baru di bidang teknologi pendidikan yang mungkin dikembangkan di Indonesia. DMB saat ini dikembangkan di Korea Selatan. Mobile learning dapat menjadi solusi bagi masalah pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan yang tidak merata. Akibat dari pendidikan yang tidak merata ini sangat mempengaruhi Indonesia secara keseluruhan. Pendidikan yang berkualitas saat ini masih terpusat di kota-kota besar, sedangkan masih banyak sekali daerah yang belum bisa menikmati pendidikan yang berkualitas, padahal sejatinya pendidikan adalah hak setiap warga negara. Ketidak merataan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan ketimpangan intelektual yang kemudian membawa implikasi ke berbagai sektor kehidupan, membuat satu daerah begitu maju, dan daerah lain begitu tertinggal. Ketidak seimbangan semacam ini adalah masalah bagi Indonesia secara keseluruhan.

Mobile learning dapat diadopsi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Teknologi pendidikan ini dirancang sebagai sarana ‘to reach the unreachable’. Untuk menjangkau yang tidak terjangkau. Dengan mengimplementasikan mobile learning, Indonesia dapat memeratakan pendidikan ke seluruh pelosok wilayah. Ini bukan hal yang mustahil karena sejatinya generasi hari ini adalah generasi yang telah akrab dengan teknologi informasi. Jika dahulu telepon selular hanya dapat dinikmati oleh kalangan ekonomi atas, kini semua orang bisa menggunakannya tanpa melihat kelas ekonominya. Telepon selular telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kini pengguna telepon selular di Indonesia mencapai angka 170 juta dan pengguna internet mencapai 57,8 juta. Generasi Indonesia hari ini adalah generasi baru. Mereka adalah generasi cyber dengan karakteristiknya yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dengan adanya fakta ini, maka implementasi mobile learning bukan hal yang mustahil. Upaya pemerataan pendidikan ke berbagai pelosok wilayah Indonesia dapat direalisasikan.

Namun demikian, mobile learning adalah sebuah konsep teknologi untuk pendidikan. Untuk merealisasikan dalam implementasi nyata sehingga benar-benar membawa manfaat dibutuhkan dukungan yang terintegrasi dari berbagai komponen yang terlibat. Pemerintah perlu membuat kebijakan dan regulasi yang mengakomodir implementasi mobile learning, sehingga tujuan aplikasinya dapat dicapai dan tepat sasaran. Para pihak yang terlibat seperti akademisi bidang teknologi informasi, praktisi dan para ahli perlu secara sinergi membangun budaya cyber di masyarakat sehingga masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang melek teknologi dan tidak tertinggal di era global. Karena bagaimanapun, secanggih apapun teknologi yang hendak diimplementasikan, tidak akan berarti apa-apa jika masyarakat tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Dan masyarakat hanya akan dapat memanfaatkan jika mereka memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang teknologi tersebut.

Mobile learning adalah terobosan baru di bidang pendidikan yang akan dapat membantu Indonesia mendapatkan kejayaannya di masa mendatang jika diaplikasikan dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab oleh seluruh pihak terkait.

B.       Rekomendasi

Pendidikan merupakan usaha mencerdaskan bangsa. Pendidikan adalah faktor yang paling menentukan tingkat kemajuan suatu bangsa. Indonesia harus secara serius memperhatikan bidang pendidikan jika ingin menjadi bangsa dan negara yang maju di masa depan. Karena pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk membangun peradaban sehingga suatu bangsa tidak akan tertinggal dari bangsa lain dan dapat bersaing dalam kompetisi global.
Hal di atas dapat dicapai jika pendidikan yang berkualitas sudah merata ke berbagai wilayah di Indonesia yang notabene merupakan negara kepulauan yang kompleks akan berbagai masalah pendidikan.

Pemerataan pendidikan di masa depan dapat dicapai dengan aplikasi teknologi pendidikan melalui mobile learning yang dapat menjangkau berbgai daerah yang selama ini belum terjangkau. Jika pendidikan telah merata dan tidak lagi hanya terpusat di kota-kota besar, maka itu menjadi tanda bagi bangkitnya Indonesia sebagai bangsa yang maju di masa depan.

Namun implementasi mobile learning tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hendaknya semua komponen saling bergandeng tangan untuk dapat merealisasikan teknologi pendidikan tersebut agar tepat sasaran dan sesuai tujuan. Pemerintah perlu membuat kebijakan dan regulasi yang dapat mengakomodir implementasi dari mobile learning, dan para ahli di bidang teknologi informasi harus secara kontinyu mengedukasi masyarakat tentang budaya cyber sehingga semuanya dapat sinergi untuk mencapai tujuan bersama, yaitu pendidikan yang merata di seluruh wilayah Indonesia, dan Indonesia yang berjaya di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.2002. Dasar -  Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Woodil, Gary. 2011. The Mobile Learning Edge. United States of America : Mc Graw Hill

Agar, John. 2005. Constant Touch : A Global History of A Mobile Phone. Thriplow. UK : Icon Books

Prensky, Marc. 2005. “What Can You Learn From A Cell Phone?. Almost Anything!” Innovate, vol. 1,no.5, June/July 2005

Republika, Unissula Pelopor Aplikasikan T-DMB untuk Pendidikan. 02 Februari 2011.

Friedman, Thomas. 2005. The World Is Flat. United States of America : Farrar, Straus and Giroux.

Woodil, Gary. 2010. Training and Collaboration with Virtual Worlds. United States of America : Mc Graw Hill

Unissula, 2011. Aplikasi Digital Multimedia Broadcasting untuk Riset dan Pengembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia. Semarang : Unissula Press

Sadad, Akhyar 2011. Islam di Era Digital. Center for Islamic Civilization Unissula

Wikipedia.org, Mlearning. Diakses pada 11 Januari 2011

Matematika, PPPPTK.2009. Mobile Learning. Diakses dari http://m.p4tkmatematika.org/category/tentang-kami/ pada 11 Januari 2012.

Hidayat, Andi. 2010. Mobile Learning. Pembelajaran Berbasis HP. Sebuah Terobosan Pemanfaatan Teknologi di Bidang Pendidikan. Diakses dari http://andimanwno.wordpress.com pada 11 Januari 2012.

Mobile Learning Is For Everyone, diakses dari http://www.m-learning.org/ pada 11 Januari 2012

Digital Multimedia Broadcasting, diakses dari wikipedia.org pada 11 Januari 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar