Senin, 01 Juli 2013

Hidup Semuanya Rahmat


Indahnya hidup jika kita belajar memandang kehidupan dengan meniru perspektif Baginda Nabi Muhammad saw. Tentu saja kita tidak mungkin bisa mendekati apalagi menyamai perspektif beliau yang begitu agung. Tapi sebagai umatnya, kita boleh berusaha mendekatinya, meneladaninya semaksimal mungkin semampu kita sebagai manusia biasa, yang sesungguhnya begitu mudah tergelincir, baik dalam urusan hati, pikiran, ucapan maupun laku. Hanya dengan mengikat diri kepada Allah dan Rasul-Nya, kita inshaallah bisa selamat dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang cobaan.

Dalam kehidupan kita selalu diuji oleh Allah dengan berbagai macam hal seperti  kesenangan dan kesusahan atau kelapangan dan kesempitan. Tidak ada satupun manusia yang bebas dari ujian ini, sekalipun seorang pribadi agung sepanjang sejarah umat manusia, Baginda Nabi Muhammad saw. Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata orang-orang yang berjihad diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”[1]
Konon, ujian Allah berupa kesenangan dan kelapangan sering melenakan umat manusia  dan tak jarang ujian berupa kesusahan dan kesempitan membuat hati kita marah, bahkan dalam tingkat yang lebih akut dapat menyebabkan kekufuran –Naudzubillah min dzalik. Padahal jika kita mau merenungkan, sejatinya kesenangan dan kesusahan atau kelapangan dan kesempitan hanyalah makhluk Allah, keduanya bersifat oposisi dan dipergilirkan Allah kepada semua manusia untuk menguji mereka. Entah kesenangan maupun kesusahan, atau kelapangan maupun kesempitan, keduanya sama saja di hadapan Allah. 
 
Kemudian kita mengetahui bahwa Allah mengirim dua karakter agung kepada manusia, yaitu syukur dan sabar untuk bekerjasama, bersijalin di dalam diri sebagai bekal dalam mengarungi dinamika kehidupan. Syukur dan sabar adalah dua sisi mata uang dalam  Islam, yang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus beriringan di segala situasi yang dihadapi seorang hamba.
Saat kita dikaruniai kesenangan dan kelapangan hidup kita harus bersyukur. Tapi syukur saja tidak cukup, kita juga harus bersabar. Sudah jamak bahwa kesenangan dan kelapangan berpotensi membawa seseorang pada kelalaian. Disini, sabar berfungsi sebagai kontrol agar kita tetap ingat, tetap sadar, tetap waspada dan tetap terhindar dari kelalaian, sikap berlebihan, rasa sombong karena merasa nikmat itu kita peroleh sebagai keberhasilan pribadi dan bukan semata-mata karena kasih sayang Allah. Dalam konteks inilah sabar harus tetap ada dalam kondisi senang dan lapang. Agar kita tetap ingat bahwa semua nikmat itu asalnya dari Allah sehingga kita tetap tawadhu dan tidak menyombongkan diri atas segala sesuatu yang sejatinya bukan milik kita, tapi sekedar ujian Allah bagi kita sebagai manusia.
Dalam kesusahan dan kesempitan kita harus bersabar. Tapi sabar saja tidak cukup, kita juga harus bersyukur. Mengapa bersyukur..?? Karena di dalam kesusahan dan kesempitan Allah memberi kita kesempatan untuk memperbaharui diri. Dengan kesusahan dan kesempitan Allah memberi kita ujian penghapus dosa. Rasulullah saw bersabda “Tidaklah seorang muslim ditimpa kegelisahan, atau kesempitan, atau sekedar tertusuk duri kecuali Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya”. Kita harus bersyukur karena dengan kesusahan dan kesempitan kita diingatkan bahwa kita sesungguhnya adalah lemah, tidak berdaya tanpa pertolongan Allah sehingga membuat hati kian ingat kepada Allah untuk kemudian bertaubat dan memperbaiki diri dalam rangka mengharap ampunan dan rahmat Allah.
Dengan kesusahan dan kesempitan Allah menghapus dosa-dosa kita. Ini penting bagi kita karena dosa kita yang menggunung. Jika saja setiap hari sepanjang hidup kita terus menunaikan shalat taubat misalnya, niscaya ia tak akan mampu menghapuskan dosa-dosa kita karena begitu besarnya dosa-dosa yang terus kita perbuat, kecuali jika Allah berkenan melimpahkan rahmat dan kasihnya kepada kita semua.
Itulah mengapa, jika kita mau merenungkan kehidupan dengan segala dinamikanya dengan mencoba meneladani perspektif Rasulullah saw. Maka segala kesenangan ataupun kesusahan, kelapangan ataupun kesempitan, sehat ataupun sakit, kemudahan ataupun kesulitan, sesungguhnya semua adalah indah, semua adalah nikmat, semua adalah rahmat.
Dalam kehidupan ini sering kita melihat orang yang kaya sejak lahir karena mewarisi kekayaan orang tuanya, atau orang yang mulia sejak lahir karena mewarisi kemuliaan leluhurnya, atau orang yang ditakdirkan lahir dengan otak super cerdas sehingga begitu mudah menyerap ilmu pengetahuan tanpa perjuangan yang berarti, mudah menyelesaikan soal-soal matematika yang rumit, mudah mempelajari bahasa-bahasa asing, dan segala kemudahan lainnya. Sering kita melihat orang dengan ribuan kesempatan membentang di depan matanya dengan akses luar biasa untuk meraih masa depan cemerlang.
Sebaliknya, tidak jarang kita melihat orang yang sudah bekerja keras sepanjang hayat tapi tak kunjung sejahtera. Tidak sedikit seorang bayi lahir dengan mewarisi aib orang tuanya dan menanggungnya sebagai beban seumur hidup. Tidak jarang kita melihat orang yang begitu sulit memahami ilmu pengetahuan betapapun ia sudah belajar siang dan malam. Atau orang-orang yang begitu sulit mendapat akses untuk meraih masa depan disebabkan himpitan kehidupan.
Mengapa hal-hal kontradiktif di atas harus mewujud dalam kehidupan manusia?? Mengapa kehidupan seolah memanjakan sebagian orang dan tak adil pada sebagian yang lain?? Mengapa dan mengapa..?? Pertanyaan semacam ini tentu wajar, konsekwensi dari fitrah manusia sebagai makhluk yang berakal. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa semua realita tersebut adalah bagian dari hukum Allah yang memang harus ada dan terjadi?? Tidak mungkin ada kekayaan jika Allah menghendaki kekayaan itu tiada. Tidak mungkin ada kemiskinan jika Allah menghendaki kemiskinan itu tiada. Tidak ada yang terjadi kecuali segalanya atas izin Allah. Sebagaimana Allah ridho dengan adanya kelapangan, Allah juga ridho dengan adanya kesempitan. Begitu juga Allah ridho atas segala realita yang terjadi di muka bumi ini.
Semua realita tersebut adalah rangkaian ujian tak berkesudahan yang harus kita hadapi sepanjang hayat masih di kandung badan. Benar bahwa Allah memberi kita kemerdekaan untuk berikhtiar dan itulah alasan mengapa kita begitu istimewa di hadapan Allah. Namun ikhtiar bukan satu-satunya parameter kehidupan untuk kemudian ‘dituhankan’. Ikhtiar semata-mata sebagai prasyarat dan konsekwensi logis dari kehidupan yang pada akhirnya,  toh, semua kembali pada ketetapan Allah Sang Pemilik Kehidupan.
Yang sesungguhnya harus benar-benar kita upayakan sebagai hamba adalah bagaimana cara agar kita sukses melalui setiap jengkal tahapan ujian kehidupan baik senang ataupun susah, lapang ataupun sempit dengan segala dinamikanya sehingga kita mampu mencapai puncak tertinggi dari keseluruhan tujuan hidup ini, yaitu ridho Allah sehingga Allah berkenan menghimpun kita di Jannah-Nya yang diberkahi. Dan tidaklah kita mampu melewatinya, kecuali dengan selalu menggantungkan diri kepada Allah dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Tidaklah kita bisa selamat melewati kehidupan ini kecuali dengan selalu menstandarkan diri pada Rasulullah saw dalam setiap gerak kehidupan. Memang begitu berat dan tidak mudah. Siapa yang mengatakan mudah pasti dia telah berbohong. Karena jika gunung diberi amanah atas apa yang diamanahkan pada manusia, niscaya ia hancur berkeping-keping disebabkan rasa takutnya kepada Allah. Menjadi manusia memang tidak pernah mudah.
Dalam kehidupan, sering kita mendengar para motivator berkata “Jika engkau terlahir miskin itu bukan salahmu, namun jika engkau mati dalam keadaan miskin, itu baru salahmu”. Ya, dalam konteks memotivasi seseorang untuk menjadi lebih baik boleh sih. Tapi secara kritis statemen ini tidak adil dimana kemiskinan merupakan bagian dari realitas-realitas kehidupan. Tidak adil karena sudah menderita, miskin, masih disalahkan pula. Kaya atau miskin adalah bagian dari ujian Allah kepada hamba-hamba-Nya. Jika kekayaan dan kemiskinan semata-mata dibedakan karena ikhtiar manusia, niscaya tidak mungkin Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah binti Muhammad ra miskin. Tidak mungkin Rasulullah saw, Abu Bakar ra, dan Umar bin Khattab ra keluar tengah malam karena menanggung rasa lapar yang melilit. Tidak mungkin umul mu’minin Aisyah ra tak punya menu berbuka puasa sama sekali meskipun hanya sebiji kurma. Sedang mereka adalah pribadi-pribadi unggul dalam sejarah peradaban manusia yang jika mau, dunia pasti tunduk dalam genggaman tangannya.
Kehebatan Rasulullah saw sebagai utusan Allah, kecerdasan Ali bin Abi Thalib, keterampilan Abu Bakar dan integritas Umar bin Khattab lebih dari cukup untuk menjadikan dunia berada di bawah telapak kakinya jika mereka mau dan Allah menghendaki. Dan memang mereka pernah menjadi sosok kaya raya sampai pada titik dimana mereka tidak lagi membutuhkan harta benda. Tapi toh, mereka yang agung juga diuji Allah dengan kesempitan. Artinya, kehidupan ini bukan semata-mata hasil hitungan matematika manusia, bukan semata-mata urusan sebab akibat. Lebih dari itu, Allah bebas berkehendak menguji hambanya dalam kapasitas apapun dengan ujian apapun yang dikehendakinya meskipun logika kita tidak dapat menerimanya. Ujian Allah tidak pernah membeda-bedakan manusia. Semakin tinggi derajat seseorang di hadapan Allah, semakin berat ujian kehidupan yang harus dilaluinya. Tapi sungguh begitu belas kasihnya Allah kepada kita, sehingga Allah tidak akan menguji kita dengan sesuatu di luar kemampuan kita.
Jadi, manakah dari kehidupan ini yang bukan rahmat?? Kesenangan atau kesusahan adalah rahmat. Kelapangan atau kesempitan adalah rahmat. Sehat atau sakit adalah rahmat. Kekasih atau musuh adalah rahmat. Kaya atau miskin adalah rahmat. Semuanya indah, semuanya nikmat, semuanya rahmat.
Semoga Allah selalu memberi kita kekuatan untuk terus memfokuskan diri semata-mata hanya kepada Allah dan Rasul-Nya meskipun kehidupan menjanjikan gemerlap kenikmatan yang melenakan atau bahkan derita yang menyakitkan. Semoga Allah membuka pintu-pintu ilmu yang bermanfaat dan hikmah agar kita mampu memahami Islam dengan kaffah untuk kemudian berislam secara kaffah. Semoga Allah mengikat hati kita dengan kekasih kita Rasulullah Muhammad saw, sang cahaya abadi. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu menjadikannya sebagai standar hidup dan pedoman di segala situasi. Ialah pedoman dan teladan yang paling sempurna. Dan akhirnya, semoga Allah mengumpulkan kita semua bersama Rasulullah saw di Jannah-Nya. Terimakasih Allah atas Rasulullah saw. Kami diberkahi karena Rasulullah saw J
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoannya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya. Dan adalah keadaannya itu melewati batas”
-QS. Kahfi :28-
Wallahua’lam Bissawwab..

[1] QS. Al-Imran : 142

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar