Minggu, 02 Juni 2013

Media Sosial dan Akhlak Rasulullah SAW

MEDIA SOSIAL DAN AKHLAK RASULULLAH SAW
“Jejak-jejak akhlakku akan tetap berada di tengah-tengah umatku hingga hari kiamat. Satu-satunya alasan bagi kemuliaan dan kebanggaan bagi setiap orang adalah akhlak mereka. Dalam pekerjaan mereka, perolehan, kebiasaan, keadaan mereka saat ini, keberhasilan sejati hanya bisa dicapai melalui akhlak yang baik, terutama jika akhlak itu disempurnakan melalui keadilan”
-Muhammad saw-[1]
Revolusi teknologi informasi menjadikan abad 21 sebagai abad yang sama sekali berbeda dari abad-abad sebelumnya. Teknologi informasi telah mengubah dunia, mengubah kecendrungan manusia dan pola interaksi antar manusia. Jika di abad-abad sebelumnya manusia cenderung melaksanakan satu pekerjaan dalam satu waktu, teknologi informasi telah menjadikan manusia abad 21 sebagai generasi multi-tasking yang melakukan satu, dua, atau tiga pekerjaan sekaligus dalam sekali duduk. Saat kuliah, mahasiswa masih bisa terkoneksi dengan teman-temannya di berbagai penjuru dunia melalui media sosial, ngobrol via chatting, tanpa harus kehilangan momen belajar itu sendiri. Saat rapat, seorang suami bisa menyapa istri dan anak-anaknya via BBM, Kakao, Whats Up, Line, Chat On, dll. Saat demo, seorang aktivis masih sempat menghubungi orang tuanya untuk menghibur mereka bahwa semuanya terkendali dan akan baik-baik saja. Dan masih banyak contoh lainnya dari kebiasaan baru generasi multi-tasking di abad 21 yang tidak pernah ada di abad-abad sebelumnya. 
Bicara teknologi informasi, kita tidak bisa melepaskan media sosial sebagai bagian penting dari revolusi teknologi informasi di abad 21. Media sosial telah mengubah mindset, attitude, behavior, kecenderungan dan model interaksi manusia di seluruh penjuru dunia. Dengan semakin banyak orang yang terkoneksi dalam media sosial, semakin besar pula peran  media sosial dalam menentukan masa depan peradaban umat manusia. Sayangnya, belum banyak orang menyadari peran media sosial di era yang sudah berubah ini. Kebanyakan orang masih menganggap fenomena media sosial sebagai bagian dari dunia maya, semu, tidak nyata, yang membuat mereka bisa seenak hati berbuat apa saja di media sosial tanpa peduli impact bagi orang-orang di kanan kirinya, orang-orang di friendlist-nya, orang-orang yang membaca tulisan-tulisannya atau bagi kehidupan sosial dalam wilayah masyarakatnya di dunia ‘maya’. Itu wajar karena mereka menganggap semua ini hanyalah bagian dari permainan dunia maya, tidak nyata. Mindset semacam ini adalah mindset lawas yang sudah usang dan harus segera diubah karena sudah tidak sesuai dengan realita abad 21.  

Di era teknologi informasi di abad 21, istilah dunia maya sudah tidak lagi relevan untuk menggambarkan realita media sosial, internet dan segala hal yang berkaitan dengan teknologi informasi. Kini, tidak ada lagi dikotomi antara dunia nyata dan dunia maya karena semua yang berinteraksi dalam internet adalah nyata..!! Media sosial adalah “Extended society” sebuah media yang meluaskan ruang lingkup sosial dengan jasa teknologi informasi yang canggih. Media sosial berperan mendekatkan yang jauh, menjangkau yang tidak terjangkau, menghubungkan yang tidak terhubung dan mengikat manusia dalam satu pola interaksi tertentu, untuk kemudian menciptakan suatu kultur sosial di dunia ‘maya’ yang sesungguhnya sedikit banyak mewakili kultur sosial di dunia nyata. Media sosial sama sekali tidak palsu, ialah nyata, sebuah media yang mendekatkan jarak, membuka peluang komunikasi dan interaksi, menjangkau yang tidak terjangkau, menghimpun dan menghubungkan manusia dalam skala global.
Realita media sosial yang sesungguhnya nyata membawa konsekwensi tertentu dalam pola interaksi antara manusia di media sosial. Salah satu hal paling penting yang harus diperhatikan adalah etika. Sejatinya etika di media sosial tidak boleh berbeda dengan etika di dunia nyata. Mari kita ambil contoh Facebook sebagai jejaring sosial yang masih memimpin di dunia. Di Facebook, akun kita ibarat rumah kita, dan akun orang lain ibarat rumah orang lain. Semua daftar teman kita, sesungguhnya adalah tetangga kita, yang sedikit banyak akan terimbas oleh setiap laku kita saat kita meng-update status, upload foto, upload video, membuat event, catatan, dll. Kita memiliki privasi dalam kehidupan, begitu juga mereka. Kita ingin nyaman begitu juga orang lain. Kita menjaga nama baik diri sendiri, begitu juga kita harus menjaga nama baik orang lain. Kita memberi salam ketika berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata saat bertemu dan berpisah, begitu juga seharusnya hal yang sama kita lakukan di media sosial, bukan membuka percakapan seenak hati, dan melenggang pergi seenak hati. Kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Etika di media sosial harus dijunjung tinggi.
Akhlak kita di media sosial, semestinya sama dengan akhlak kita di dunia nyata karena manusia-manusia yang berinteraksi dengan kita di media sosial, adalah juga benar-benar manusia, bukan manusia jadi-jadian atau siluman yang tidak punya hati dan perasaan[2]. Mereka setara dengan kita dalam hal emosi, harapan, kebutuhan untuk dihargai dan dihormati. Mereka menginginkan dirinya aman dan selamat dari ucapan dan perbuatan kita. Mereka ingin sebuah hubungan yang sehat sebagaimana fitrah setiap manusia adalah menginginkan ketentraman dan kedamaian tanpa rasa khawatir dan waswas dalam menjalani kehidupan sosial.
Maka, meneladani akhlak Rasulullah saw dalam berinteraksi di media sosial adalah pilihan tanpa tawar jika kita ingin menciptakan iklim yang sehat dalam berinteraksi dengan umat manusia, membangun persaudaraan, dan membangun aliansi tanpa batas-batas kultural, agama, ras, atau golongan. Rasulullah saw berpesan “Pergaulilah umat manusia dengan akhlak mulia”. Hal ini bukan hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga di media sosial yang kebanyakan orang masih meyakini eksistensinya sebagai dunia maya. Rasulullah saw berpesan “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik, atau diam[3]”. Dari Muadz r.a, “Kemudian Rasulullah saw bersabad, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Muadz r.a) berkata ‘Mau, wahai Rasulullah saw,’ Maka Rasulullah memegang lidahnya, beliau bersabda ‘Tahan ini!’ Saya berkata ‘Wahai Nabi Allah, adakah kita berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Ibumu kehilangan dirimu wahai Muadz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya ke dalam neraka dikarenakan lidahnya’, atau ‘Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?”[4]
Rasulullah saw bersabda “Siapa yang mau menjamin untukku bahwa dia akan menjaga organ antara dua rahang dan dua kakinya, maka aku jamin surga baginya”[5]. Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah ridho kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka jahannam.”[6] Suatu hari salah seorang sahabat terkasih Rasulullah saw, Umar bin Khattab berkata “Akan ada masa dimana suatu perbuatan dianggap remeh, padahal dimasa Rasulullah itu sama sekali tidak remeh.”[7]
Rasulullah saw menggambarkan kepada kita, bahwa inti dari ajaran Islam adalah ketika orang lain aman dan selamat dari ucapan dan perbuatan kita. Rasulullah sangat concern memandang persoalan lisan dan perbuatan. Beliau menyadari bahwa ucapan dan laku seseorang sangat berpengaruh besar bagi orang-orang disekitarnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh besar bagi nasib masyarakat dan peradaban dalam ranah yang lebih luas. Rasulullah saw sangat menghormati dan sama sekali tidak pernah meremehkan peran setiap individu bagi stabilitas sosial masyarakat. Tidak ada satupun manusia di hadapan Rasulullah saw yang tidak berpengaruh bagi manusia lainnya, sekalipun dalam kenyataan kita sering meremehkan peran kita sendiri dengan berkata “Memangnya aku siapa, aku mau ngapain juga gak ngaruh koq buat orang-orang lain, aku ini bukan siapa-siapa”. Rasulullah saw tidak demikian, Rasulullah saw adalah manusia terbaik dengan visi terbaik dalam kehidupan. Beliau memahami dengan sangat baik jalinan interkoneksi dan interdependensi umat manusia dalam skala global yang akan menentukan wajah peradaban. Inilah salah satu alasan mendasar menurut hemat saya mengapa Rasulullah saw meminta masing-masing kita membangun akhlak mulia mulai dari diri sendiri. Inilah cara bagaimana Rasulullah saw mengakomodir individualitas, sebuah konsep yang berabad-abad kemudian sangat populer di kalangan para pemikir Barat Modern dengan salah satu tokohnya John Stuart Mill yang menulis “The worth of a state in the long runs is the worth of the individuals composing it”.
Media sosial berbasis tekonologi informasi adalah sebuah tool di abad 21 yang membuktikan visi Rasulullah saw, bahwa mindset, attitude dan behaviour masing-masing individu dapat menentukan masa depan masyarakat dunia. Akhlak masing-masing individu di media sosial, adalah visualisasi akhlak masing-masing individu di dunia nyata. Jika kita mampu memahami pesan Rasulullah saw dan kemudian mau mengimplementasikan pesan luhur tersebut dalam pergaulan di media sosial, akan muncul sebuah impact, bahwa betapa kita sebagai individu akan mampu berkontribusi bagi pembinaan masa depan peradaban umat manusia.
Jika kita hanya mengatakan yang baik atau diam, sebagaimana pesan Rasulullah saw, berapa banyak manusia yang tercerahkan oleh kata-kata sepele yang kita update dan berapa banyak orang yang selamat dari buruknya perkataan kita. Jika kita ramah menyapa orang lain di media sosial, baik secara terbuka di wall dan comment atau secara privat di message, berapa banyak silaturahmi, kekeluargaan dan persaudaraan yang bisa dibangun dan berimbas positif di dunia nyata. Jika kita sharing link-link yang bermanfaat, berapa banyak orang lain yang mendapat pengetahuan baru dari sharing kita, mereka mendapat ilmu yang mencerahkan dan bermanfaat, bisa saja mereka terdorong untuk berbuat baik karena hal sepele yang kita lakukan, hal sepele yang mungkin remeh di hadapan kita, tapi sama sekali tidak remeh di hadapan Allah dan Rasul-Nya.
Begitu juga sebaliknya, jika kita meng-update status dengan kata-kata nakal, seronok, tidak santun, kotor, rasis, terkesan menghina, memaki dan merendahkan orang lain,  bukan hanya membuat risih orang lain yang membacanya, tapi juga berarti -secara tidak langsung- kita telah berkontribusi dalam merusak orang lain yang pada akhirnya merusak masyarakat dan tatanan sosial yang semestinya dibangun. Kata-kata negatif adalah penyakit. Jika seseorang terbiasa dengan kata-kata negatif, pelan-pelan kata-kata negatif tersebut akan menjadi input negatif yang masuk ke alam bawah sadarnya, menjadikan seseorang familiar dengan hal-hal negatif. Ketika seseorang sudah familiar dengan hal-hal yang berbau negatif, tidak ada lagi risih dan rasa tidak nyaman ketika harus berinteraksi dengannya dan bisa jadi, justru menikmati keadaan semacam itu, menganggapnya bagian dari permainan dalam kehidupan.  Keadaan familiar semacam itu kemudian menimbulkan kecenderungan baru yang membuat mereka toleran atau bahkan resisten terhadap hal-hal negatif di sekitarnya. Orang menjadi tidak peka terhadap ketimpangan di depan matanya. Ini berbahaya bagi perkembangan mental dan akhlak masing-masing individu, yang kemudian berbahaya bagi nasib peradaban dalam jangka panjang.
Memang benar bahwa kata-kata tidak selalu mencerminkan hati seseorang, tapi satu hal yang pasti bahwa hati selalu mencerminkan kata-kata. Bisa jadi kata-kata bijak itu dibuat oleh pribadi yang buruk demi mencitrakan dirinya menjadi baik di mata orang lain. Tapi tidak pernah pribadi yang baik mengeluarkan kata-kata buruk dengan alasan apapun. Sebab, kata-kata negatif yang buruk itu tidak ada dalam variabel hidupnya.
Begitulah realita media sosial, menjadi ujian sekaligus fitnah bagi manusia di abad 21. Seorang muslim yang percaya bahwa setiap lakunya akan dimintai pertanggung jawaban di hari kiamat, mestinya belajar dan tidak menganggap remeh fenomena media sosial. Karena sebagaimana  sabda Rasulullah “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah ridho kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka jahannam.”[8]
Bergaul di media sosial artinya bergaul dengan extended society atau masyarakat dunia. Mereka nyata, bukan palsu. Pertanggung jawaban sosial kita di media sosial  sama seperti pertanggung jawaban sosial kita di masyarakat. Semestinya kita jangan pernah lupa bahwa aturan Allah tidak lepas dari media sosial dan akhlak Rasulullah saw sangat relevan serta tidak boleh ditinggalkan dalam pergaulan di media sosial. Meneladani akhlak Rasulullah saw dalam berinteraksi di media sosial adalah niscaya jika kita ingin berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih baik, beradab, tentram dan damai untuk seluruh umat manusia. Meneladani akhlak Rasulullah saw adalah niscaya jika kita ingin selamat di dunia dan akherat.
Sesungguhnya tidak sulit berkontribusi untuk kebaikan masyarakat dunia. Kita dapat memulainya dari diri sendiri. Menolong dunia berarti menolong masing-masing kita dari kerusakan karena masing-masing kita adalah bagian dari masyarakat dunia. Wallahua’lam Bissawwab. 
******
“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan manusia di hari kiamat daripada akhlak yang baik” [9]
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”[10]
“Orang yang paling baik Islam-nya adalah yang paling baik akhlaknya”[11]
“’Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?’ Mereka menjawab ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta’ Beliau lalu menjelaskan ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa dan zakatnya, namun ia pernah mencela orang, memaki orang, memakan harta orang, memukul dan menumpahkan darah orang. Maka diapun harus memberikan pahala amal baiknya kepada orang-orang itu. Jika amal baiknya sudah habis sebelum dibayar semua, diambillah dosa mereka untuk diberikan kepadanya. Maka, diapun dilempar ke neraka”[12]
“Orang yang paling kucintai dan paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya”[13]
Suatu utusan datang kepada Nabi saw. Mereka bertanya “Wahai Rasulullah, siapa hamba yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab “Yang paling baik akhlaknya”[14]
Nabi saw bertanya “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah” jawab mereka. Beliau kembali bertanya “Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang paling kucintai?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawab mereka lagi. Lalu beliau menegaskan, “Orang-orang yang paling baik akhlaknya.”[15]
“Engkau Muhammad, benar-benar mempunyai akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam : 4)
“Sungguh dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab :21)
“Kami tidak mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al-Anbiya : 107)

[1] Dikutip dari halaman muka buku Akhlak al-Mukmin karya  DR. Amr Khaled (Terj. Indonesia Buku Pintar Akhlak, Penerbit Zaman, 2010)
[2] Dengan pengecualian. Memang ada tipikal manusia yang membuat akun palsu yang tidak merepresentasi dirinya dengan motif dan tujuan tertentu. Tapi bukan tipikal ini yang menjadi topik dan fokus pembahasan dalam tulisan ini.
[3] HR. Muttafaqun Alaih (Bukhari & Muslim)
[4] HR. Tirmidzi, Hasan Sahih.
[5] HR. Bukhari [6474]
[6] HR. Muttafaqun Alaih (Bukhari & Muslim)
[7] Dikutip dari film Umar bin Khattab
[8] Ibid
[9] HR. Abu Daud [4799], Tirmidzi [2003]
[10] HR. Abu Daud [4682], Ahmad [2/250]
[11] HR. Imam Ahmad dalam Musnad [5/99]
[12] HR. Muslim [6522], Tirmidzi [2418]
[13] HR. Tirmidzi [2018], Ahmad [2/217]
[14] HR. Imam Ahmad dalam Musnad [4/278], Ibnu Majah [3436]
[15] HR. Imam Ahmad [2/185 & 2/217]

1 komentar:

  1. No deposit casino bonus code for 2021? - DrmCD
    What is the best 고양 출장마사지 No Deposit Casino Bonus Code for 2021? — Let's find out. Learn why 서울특별 출장안마 and where to 삼척 출장샵 start and start with 구미 출장안마 a 여주 출장샵 no deposit bonus today!

    BalasHapus