Minggu, 21 April 2013

Presiden dan Akhlak Rakyat Indonesia

Asrama Mahasiswa UNISSULA, 20 April 2013
22.24 WIB

PRESIDEN DAN AKHLAK RAKYAT INDONESIA
Tulisan ini terinspirasi oleh fenomena di Indonesia, yang terus memanas khususnya sejak memasuki periode 2013 dengan Presiden Republik Indonesia sebagai ikon utamanya. Berbagai isu terkait presiden begitu ramai di media, pro dan kontra terhadap kebijakan presiden tidak dapat dihindarkan. Inilah konsekwensi demokrasi. Budaya yang sangat baik sesungguhnya, ketika semua orang dapat menyuarakan isi hati dan kepalanya dengan bebas tanpa takut adanya tekanan dari pihak tertentu yang sedang berkuasa. Tapi toh, demokrasi juga memiliki konsekwensi lain yang jika tidak dikawal dengan bijaksana, akan menimbulkan kerusakan yang lebih buruk daripada totalitarianisme sekalipun.
Oleh karena itu, semua orang dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) wajib mengawal proses demokrasi tersebut. Dalam pandangan saya, kaum tercerahkan, atau yang akan saya sebut dengan istilah  kaum akademisi pada baris-baris selanjutnya[1], memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dalam hal ini untuk mengawal dan mengedukasi masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang cerdas, beradab, dan bermartabat. Kaum akademisi dengan keilmuannya harus mampu menjadi pencerah masyarakat untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas, dan mana yang tidak pantas.  

Dalam tulisan ini, saya ingin mengupas sedikit isu yang hari ini begitu ramai di media berkaitan dengan presiden kita yang terhormat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Untuk tidak memperlebar topik bahasan, saya akan membatasi tulisan ini pada isu Akun Twitter SBY. Tulisan ini saya buat dalam kapasitas saya sebagai bagian dari kaum akademisi (mahasiswa) yang independen, non-politis dan non-partisan. Dan tentunya, sebagai warga negara Indonesia, yang insyallah sangat merindukan Indonesia menjadi lebih baik di masa depan dan bermartabat di mata dunia internasional. Saya juga menekankan posisi SBY dalam tulisan ini sebagai pemimpin tertinggi NKRI, presiden Indonesia dan bukan sebagai satu entitas dari golongan (partai politik) tertentu.
Baru-baru ini, presiden SBY me-launcing akun twitternya dengan username @SBYudhoyono. Sebenarnya jika ditinjau dari aspek perkembangan teknologi informasi, fenomena ini biasa-biasa saja, sangat wajar, dan sudah dilakukan oleh banyak para pemimpin bangsa di berbagai belahan dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan ibu negaranya, Michele Obama. Memiliki akun di sosial media memang penting bagi seorang pemimpin negara karena peran strategisnya untuk mengetahui realitas masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konteks ini, SBY,  justru ‘terlambat’ karena baru memutuskan untuk membuka akun di salah satu media sosial yang merupakan media sosial terbesar kedua di dunia setelah Facebook.
Hari ini, teknologi informasi telah merevolusi dunia, menjadikan dunia layaknya sebuah layar datar sebagaimana dituturkan oleh Thomas Friedman “The World is Flat”. Karena hal inilah, kemudian interaksi manusia juga mengalami banyak perubahan baik dalam level personal maupun organisasi (dari organisasi terkecil hingga negara bahkan antar negara di dunia). Dunia hari ini adalah dunia yang sama sekali lain dari dunia yang dilihat oleh para pendahulu kita di abad-abad sebelumnya. Siapa yang menolak realitas teknologi informasi yang sudah menjadi nicaya ini, dia akan terisolir dari dinamika pergaulan dunia baik dalam ranah lokal, regional, maupun internasional.
Sosial media semacam Facebook dan Twitter telah menjadi fasilitas cyber yang secara efektif mampu menghubungkan begitu banyak orang tanpa batasan ruang dan waktu. Sosial media berbasis cyber juga berjasa menghubungkan begitu banyak orang tanpa mempermasalahkan latar belakang sosial golongan tertentu. Hal ini merupakan hikmah terbesar dari perkembangan teknologi informasi yang akan membawa umat manusia mencapai sesuatu yang lebih baik dari apa yang mungkin dipikirkan oleh para pendahulunya.
Hari ini, semua manusia di kolong langit, di daerah manapun, dari kelas ekonomi apapun, dan anak siapapun, boleh mengakses informasi sebanyak-banyaknya dari internet. Ini memungkinan setiap orang bisa mengembangkan potensi individunya untuk kemudian mampu menciptakan kesejahteraan bagi dirinya dan masyarakat. Karena jalan naik seseorang bukan semata-mata ditentukan oleh siapa anak siapa, tapi lebih ditentukan oleh akses terhadap informasi[2]. Sebuah adagium kuno menyatakan bahwa siapa menguasai informasi dia menguasai dunia.  Perkembangan teknologi informasi di awal abad 21 ini telah berhasil mengangkat lebih dari 500juta warga dunia dari kelas bawah yang seolah hidup tanpa harapan ke level kelas menengah yang mampu menolong diri sendiri dan keluarganya. Kaum apatis tidak pernah melihat fenomena ini sebagai sebuah prestasi gemilang suatu zaman yang bahkan usianya belum lebih dari dua dekade.
Dengan teknologi informasi, seorang anak miskin yang dalam dunia nyata begitu sulit untuk mendapat akses, bisa dengan leluasa berguru pada para motivator adiluhung seperti Dalai Lama, Mario Teguh, Tung Desem Waringin, Bong Chandra, Andri Wongso, John C. Maxwell, Antonio Robin, dll untuk mengembangkan kualitas pribadinya. Di era teknologi informasi, semua orang bisa belajar dari para pemimpin besar dunia seperti Ban Ki-moon, Barack Obama, Hugo Chavez, Abdurrahman Wahid, Mahmoud Ahmadinejad, Toni Blair, Aung San Suu-kyi, Mahmoud Abbas, dan rekan-rekan sejawatnya dalam kuliah umum yang mereka sampaikan di berbagai tempat hanya dengan streaming via Youtobe. Di era informasi, semua orang, tanpa peduli apapun latar belakangnya, dapat berguru kepada para intelektual terkemuka di berbagai penjuru dunia seperti Muhammad Fethullah Gulen, Muhammad Yunus, Kishore Mahbubani, Martin Luther King dan rekan-rekannya, lagi-lagi cukup dengan Youtobe. Di era ini, kita bisa mengakses media-media ternama di dunia seperti The Jakarta Globe, The Economist, Harvard Business Review, Foreign Affairs, The Wall Street Journal, Al-Jazeera, BBC London, dll. Kita bisa mengakses segala macam hiburan, peluang, dan kesempatan yang bertebaran di seluruh dunia, dalam level apapun yang membuka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masing-masing individu.
Sungguh, tidak pernah ada masa sebelum era teknologi informasi di abad 21 ini dimana setiap orang benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri sampai batas maksimal yang bisa dicapainya tak peduli apapun latar belakang ekonominya. Era teknologi informasi adalah milik semua orang, dari rakyat jelata hingga pemimpin tertinggi suatu negara sekalipun. Setiap mereka memiliki hak yang sama untuk mengakses informasi dan memanfaatkan seluas-luasnya untuk menunjang tujuan dan kepentingan dari masing-masing individu yang bersangkutan.
Mengingat peran sentral teknologi informasi sebagai primadona abad 21, maka, fenomena mencemooh, memaki, mengolok-olok seorang presiden hanya karena twitter-an –entah dari negara manapun yang dilakukan oleh siapapun- tentu bukan suatu hal yang bijaksana. Hal itu  hanya akan menguatkan fakta bahwa seseorang yang bersangkutan belum benar-benar memahami esensi dari zaman (Abad 21) dimana dia hidup. Begitulah hukum Tuhan berlaku, siapa mencemooh orang lain, sesungguhnya dia sedang mencemooh dirinya sendiri. Orang yang mencemooh, selamanya tidak pernah lebih baik dari yang dicemooh kecuali jika dia bertaubat dan meminta maaf kepada yang dicemoohnya lalu mau memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatannya.
Bagi saya, fenomena akun Twitter SBY membawa hikmah tersendiri, yang sedikit banyak bisa ditarik benang merah untuk memproyeksikan realitas akhlak rakyat Indonesia secara umum[3] khususnya mereka yang hobi mencela, mencaci maki dan mengolok-olok para pemimpin. Dalam konteks ini, saya sebagai muslim, ingin menyoroti fenomena akhlak rakyat suatu negeri dari perkataan seorang pemimpin negara terbaik sepanjang masa, Rasulullah Muhammad saw. Jika dipikir lebih dalam, perkataan itu sungguh jenius dan berlaku universal tapi sayangnya banyak dilupakan khususnya oleh kita, rakyat Indonesia. Perkataan jenius itu adalah sabda Nabi saw “Kalian akan dipimpin sebagaimana adanya kalian”[4]. Menurut Fethullah Gulen dalam bukunya Muhammad saw Cahaya Abadi Kebanggaan Umat Manusia, topik ini menciptakan dimensi baru dalam ranah aturan sosial. Setidaknya ada 3 dimensi dari sabda Nabi di atas yang dibedah oleh Gulen dalam bukunya. Gulen menulis :
Pertama, hadist ini menjelaskan kepada siapapun yang berposisi sebagai rakyat bahwa sebenarnya posisi mereka sangat penting. Penyebabnya karena siapapun yang menjadi pemimpin pasti membutuhkan rakyat. Rakyatlah yang memilih pemimpin, dan bahkan menentukan jalan yang akan ditempuh oleh seorang pemimpin.
Seperti yang kita tahu, sosiologi memiliki aturan yang tidak bisa diubah. Sebagaimana halnya ilmu-ilmu lain seperti fisika, kimia, dan astronomi juga memiliki aturan baku yang prinsipnya tidak dapat berubah. Dan prinsip dalam sosiologi itu bahkan tidak akan berubah sampai hari kiamat. Jadi, jika kita melihat sebuah komunitas membiarkan kejahatan merajalela di tengah mereka maka itu pasti terjadi karena mereka membiarkan kejahatan yang serupa bersemayam di dalam hati mereka. Komunitas itu pasti biasa melakukan dan menetapkan hukum dengan cara-cara jahat. Demikianlah aturan Illahi yang tidak akan berubah.
Ya, ada baiknya sekarang kita bertanya, apakah kejahatan tengah hidup di dalam jiwa umat manusia? Apakah kejahatan menemukan lahan subur  di dalam jiwa manusia untuk tumbuh-kembang? Apakah kerusakan merajalela di dalam jiwa mereka?
Jika jawaban atas semua itu adalah “YA”, maka Allah pasti akan memberi orang-orang itu pemimpin yang sama busuknya dengan mereka untuk memerintah mereka.
Kedua, hadist ini menyatakan bahwa peraturan atau undang-undang apapun yang tertulis tidak memiliki arti apa-apa. Jika sebuah bangsa bersepakat untuk menulis sebuah undang-undang atau peraturan terbaik yang pernah ada maka itu sama sekali tidak penting. Karena yang jauh lebih penting adalah implementasi undang-undang tersebut dalam kehidupan nyata. Jadi, jelaslah bahwa apa yang terpenting bagi umat  manusia adalah akhlak mereka. Jika mereka memiliki akhlak yang baik sehingga mereka mampu menyikapi segala kesulitan dengan akhlak luhur, pastilah akan muncul orang-orang yang memerintah mereka dengan akhlak yang luhur pula.
Berikut ini saya ketengahkan sebuah kisah nyata untuk memperjelas masalah yang sedang kita bicarakan ini.
Tahir Efendi adalah seorang wakil rakyat di parlemen Turki. Dia dikenal sebagai tokoh yang cerdas dan terpandang. Ketika para wakil rakyat berlomba-lomba untuk berpidato di berbagai kesempatan, Tahir Efendi justru selalu berusaha untuk diam. Padahal para pendukungnya selalu memintanya agar mau menyampaikan pidato pada suatu kesempatan. Karena Tahir Efendi tidak mau ribut, maka diapun akhirnya mengabulkan permintaan para pendukungnya dengan menyampaikan sebuah pidato singkat, tapi padat. Berikut ini pidato Tahir Efendi itu :
“Hadirin sekalian, ketahuilah bahwa kalian adalah para pemilih sedangkan kami di parlemen adalah orang-orang yang dipilih, sebab parlemen ini memang hasil pilihan rakyat. Pada kata pemilihan umum atau “pemilihan” (intikhab) itu sendiri berasal dari kata “pilihan” (nakhbah) yang berarti inti dari segala sesuatu. Jadi, jangan sampai kalian lupa, bahwa kualitas inti dari segala sesuatu pastilah tidak akan jauh berbeda kualitas sesuatu itu. Dari susu kita dapat mengambil intinya yang juga berupa susu, sebagaimana juga dari tawas kita dapat mengambil intinya yang berupa tawas.”
Cobalah anda renungkan jawaban yang dilontarkan Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi kepada seseorang yang menyinggungnya dengan menceritakan keadilan Umar bin Khattab r.a. Al-Hajjaj berkata, “Seadainya kalian semua seperti sahabat-sahabat Umar bin Khattab, pastilah aku juga menjadi seperti Umar bin Khattab!!”
Ketiga, setiap orang harus mencari kekurangan dalam diri masing-masing. Selama setiap orang terus bersikukuh membela dan membenarkan diri mereka sendiri sembari mengorek kesalahan orang lain, tidak akan pernah ada kemajuan yang terjadi. Jika setiap individu enggan mengubah pribadi mereka masing-masing, Allah pasti tidak akan pernah mengubah apapun yang mereka alami. Jika sebuah kerusakan internal dibiarkan begitu saja, maka tunggulah sampai kerusakan itu menyebar dan menjalar hingga ke puncak. Kita tentu dapat menggunakan prinsip ini untuk melihat kadar kesalehan manusia. Dapat pula kita katakan bahwa kondisi para pemimpin yang selalu berhubungan dengan kondisi rakyat sebenarnya serupa dengan hubungan sebab-akibat”
(Muhammad saw Cahaya Abadi Kebanggaan Umat Manusia, hal 267-269)
Dari hadist Nabi dan apa yang dipaparkan Gulen dalam bukunya, kiranya sangat jelas bahwa rakyat Indonesia memiliki peran fundamental dalam memilih pemimpin dan menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam jangka panjang. John Stuart Mill menyebutnya nilai suatu bangsa dalam jangka panjang adalah akumulasi dari nilai individu-individu yang ada di dalamnya[5].
Krisis sesungguhnya yang dialami rakyat Indonesia dan melatari segala bentu krisis lainnya adalah krisis akhlak. Contoh paling nyata adalah betapa mudahnya suara kita dibeli dengan beberapa lembar uang puluhan ribu rupiah saja dalam pemilu, atau dengan iming-iming janji tertentu kepada pihak tertentu. Kebanyakan kita masih memilih pemimpin karena iming-iming dunia, dan bukan semata-mata karena kredibilitas sosok yang bersangkutan. Di Kanada misalnya –diceritakan A. Fuadi dalam Ranah 3 Warna- tidak ada satupun calon pemimpin yang berani mengambil kebijakan money politic dalam kampanye untuk pemilu. Karena jelas, rakyat Kanada akan mem-black list orang tersebut dan tidak akan memilihnya sama sekali. Di Kanada, Money politic justru menjadi awal kehancuran bagi seorang calon pemimpin. Jadi tepat apa yang dikatakan Gulen, kejahatan pemimpin terjadi karena kita membiarkan kejahatan bersemayam di dalam jiwa dan masyarakat kita. Jika kebiasaan buruk ini tidak kita hapuskan, selamanya kita tidak akan pernah memperoleh sosok pemimpin yang ideal.
Kembali ke akun Twitter SBY, adalah hak masing-masing individu untuk setuju atau tidak setuju terhadapnya, hal inipun berlaku untuk semua kebijakan presiden di bidang apapun. Seorang presiden dari negara bernama Indonesia yang demokratis harus rendah hati dan legowo untuk menerima kritik dan membebaskan pihak oposisi untuk menyuarakan pendapatnya. Oposisi sering menjadi ukuran sehat atau tidak sehatnya demokrasi di suatu negara. Semakin sehat hubungan pemerintah dengan oposisi, semakin sehat pula iklim peradaban di negara yang bersangkutan.
Tapi yang pelu dicatat adalah, bagaimana cara agar siapapun yang memilih opsi sebagai pihak oposisi terhadap pemerintah mampu menyampaikan pendapatnya dengan tata cara yang  baik, menjunjung tinggi etika sopan santun, beradab dan bermartabat sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang dicontohkan para founding father sehingga bisa menjadi contoh dan teladan bagi siapapun di sekitarnya.
Menyampaikan pendapat atau protes terhadap pemerintah dengan cara caci maki dan olok-olok tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Hal itu tidak pantas dilakukan oleh umat manusia, baik secara individu maupun kelompok, terutama siapapun yang mengaku dirinya muslim dan mengikuti akhlak Nabi Muhammad saw. Terlebih lagi, hal semacam itu jelas tidak pantas dilakukan oleh siapapun yang merupakan bagian dari kaum akademisi yang sejatinya memiliki tanggung jawab moral dihadapan Tuhan dan masyarakat untuk mencerahkan masyarakat dengan ilmu pengetahuan dan teladan yang baik.
Adalah wajar jika muncul isu kontroversif dari seorang pemimpin negara dan tiba-tiba setiap orang berubah menjadi pengamat politik ‘adi luhung’ untuk mengkritisi dirinya. Ini adalah konsekwensi era informasi di abad 21. Tapi hendaknya akhlak tetap dijaga dalam mengomentari setiap kebijakan pemerintah yang tidak kita sepakati. Menghujat, mencaci maki, dan mengolok-olok pemerintah dengan segala kebijakannya bukan saja menurunkan wibawa diri sendiri, tapi juga merusak wibawa bangsa dalam skala yang lebih luas, khususnya di dunia internasional. Jadi, dalam hemat saya, salah satu alasan mengapa bangsa Indonesia kurang dihormati oleh pihak-pihak tertentu di dunia internasional, tidak lain disebabkan, karena kita rakyat Indonesia masih belum sepenuhnya menghormati diri sendiri dan para pemimpinnya. Fenomena bintang porno Norwegia yang dengan tanpa etika ngetweet presiden SBY[6], bukan semata-mata merendahkan martabat SBY saja selaku pemimpin tertinggi negeri ini, tapi juga merendahkan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Presiden di level organisasi apapun adalah ikon yang menjadi titik pusat kehidupan dan wibawa organisasi yang bersangkutan. Semoga kita bangsa Indonesia tidak pernah lupa, bahwa SBY adalah sosok yang dipilih oleh sebagian besar rakyat Indonesia pada pemilu 2009 lalu. Inilah konsekwensi demokrasi..!! Jika kemudian banyak dari kebijakan dan program-programnya tidak kita sepakati, betapapun beliau pada akhirnya begitu mengecewakan sebagian besar rakyat yang sudah memilihnya, betapapun seseorang membencinya entah dengan alasan apapun, SBY tetaplah presiden kita yang harus kita hormati dan kita dukung program-programnya dengan ikut proaktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun itu juga sekaligus berarti bahwa kita harus proaktif mengingatkan jika ada dari kebijakan ataupun program-program beliau yang tidak pro rakyat, tentu saja dalam batas wajar namun tepat sasaran dengan tidak menanggalkan akhlak berdasarkan peradaban yang bermartabat.
Mengkritisi secara membabi buta bukan hanya tidak efektif, tapi juga merusak masyarakat yang seharusnya kita didik bersama agar memiliki paradigma dan akhlak yang lebih baik. Saya khawatir, jangan-jangan kritik kita tidak lagi sehat dan hanya didorong oleh kebencian semata. Saya khawatir, jangan-jangan bukan hanya karena presiden perlu dikritik, tapi karena kacamata paradigma kita yang sudah terlanjur kotor sehingga apapun yang ada di depan kita semuanya nampak kotor. Semoga kita terjaga dari hal-hal yang tidak berguna.
Jadi, menurut saya, yang terbaik adalah memahami area tanggung jawab dari masing-masing kita dan mencoba melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika kita tidak atau belum mampu menolong Indonesia dengan kepemimpinan dan kekuasaan di level  negara, kita semua pasti bisa menolong Indonesia mulai dari level individu hingga level organisasi yang menjadi area kita baik formal maupun non formal. Masing-masing kita memiliki area tanggung jawab yang berbeda-beda terhadap masyarakat. Kita harus membangun nilai-nilai individu dalam diri masing-masing dengan penuh kesadaran dan memahami bahwa masing-masing kita memiliki peran yang tidak sepele bagi kehidupan.
Dunia mengalami globalisasi di abad 21. Globalisasi –suka atau tidak suka- membawa efek positif maupun negatif bagi kehidupan. Di era global, sekecil apapun yang kita gagas dan lakukan, sedikit banyak akan berpengaruh bagi individu lain, komunitas, organisasi, bangsa dan negara, bahkan dunia internasional. Ini disebabkan karena globalisasi  menjadikan setiap entitas kehidupan dari level individu hingga negara memiliki jalinan interkoneksi dan interdependensi satu sama lain. Maka, mengutip statemen Anies Baswedan, kita harus menyadari bahwa masing-masing kita merupakan bagian dari warga dunia. Dengan demikian, kita akan lebih bertanggung jawab terhadap apapun yang kita pikir dan lakukan karena sekecil apapun, semuanya memiliki impact bagi kehidupan.
Saya percaya dengan visi Indonesia Emas 2020 gagasan Anis Matta dan Ary Ginanjar[7], saya yakin dengan Visi Nusantara Jaya 45 gagasan Marwah Daud Ibrahim[8], dan saya juga optimis bahwa prediksi SBY - pada 2045, karakteristik para pemimpin Indonesia akan sekuat karakteristik para founding father[9]- bisa dicapai. Tapi kita harus selalu ingat, bahwa untuk menuju kesana kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh secara kolektif dengan memaksimalkan potensi individu-individu yang ada di Indonesia. Dan semua itu, tidak bisa tidak, harus dilandasi dengan pembangunan akhlak sebagai bagian terpenting dari diri masing-masing individu. Indonesia tidak akan menjadi emas, kecuali jika masing-masing individunya (baca : masyarakat) menjadi emas terlebih dahulu. Indonesia tidak akan berjaya, kecuali jika masyarakatnya berjaya terlebih dahulu. Para pemimpin Indonesia pada 2045 tidak akan memiliki karakteristik yang sekuat para founding father kecuali jika kita siapkan dengan serius bibit-bibit unggul itu sejak sekarang.
Untuk merealisasikan visi-visi di atas, dibutuhkan sinergi dari setiap entitas yang ada di Indonesia, dari mulai presiden dan pembantu-pembantunya dari pusat hingga ke RT dan seluruh rakyat Indonesia. Dalam konteks ini, kaum akademisi memiliki tanggung jawab yang berat mengingat keilmuan melekat pada dirinya sehingga kewajiban dan tanggung jawabnya untuk mencerahkan masyarakat menjadi lebih besar dari entitas manapun yang ada di Indonesia.     
Saya merindukan apa yang dilakukan salah seorang teman saya dari Myanmar tempo hari[10] akan terwujud di Indonesia suatu hari nanti. Di akun facebook-nya, teman saya Khun Soe, meng-update status :
“Happy Bithday Mr. President... <3 You are the best for us..!! We all love you! May you have all that you wish for us to come true”
Soe dengan bangga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Presiden Thein Sein dan berharap sang presiden sukses merealisasikan program-programnya untuk rakyat Myanmar. Presiden Thein Sein tentu bukan sosok sempurna karena berhasil mendapat dukungan moril dari rakyatnya seperti Soe. Kebijakan-kebijakan beliau juga tidak lepas dari kontroversi di internal Myanmar sendiri mulai dari konflik antar agama, masalah ekonomi, kesejahteraan, dan politik. Belum lagi kontroversi kebijakannya di ranah internasional. Tapi bagaimana seorang warganya mengapresiasi, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendukung program-programnya di sebuah akun sosial media, yang belum tentu dibaca langsung oleh sang presiden memiliki nilai tersendiri.
Ini adalah PR SBY, dan siapapun sosok yang kelak meneruskan estafet kepemimpinannya. Bahwa keberhasilan terbesar seorang pemimpin adalah ketika rakyat bangga untuk dipimpin olehnya, dan juga bangga untuk menyatakan kepada siapapun siapa pemimpinnya. Soe sudah melakukannya, dan saya belum merasakan apa yang dirasakan Soe, sebuah kebanggan holistik terhadap sosok pemimpin, kecuali di level universitas, ketika saya dan teman-teman mahasiswa bangga untuk menyatakan kepada siapapun saat mereka bertanya “Siapa rektor universitasmu??”.
Saya merindukan generasi saya bisa memiliki kebanggaan yang tulus kepada para pemimpin negeri ini dan bisa dengan senang hati mengakuinya di hadapan siapapun, khususnya di dunia internasional. Namun yang jauh lebih penting di atas semua itu adalah kebanggaan kami yang tulus kepada para pemimpin negeri ini dan mengakuinya dengan sepenuh hati di hadapan diri kami sendiri. Kebanggaan itu tidak akan pernah ada di hati kami, kecuali dengan kerja nyata dan pengabdian yang tulus dari Anda-anda yang terhormat, wahai Presiden Republik Indonesia dan rekan-rekan sejawatnya sekalian selaku para pemimpin negeri tercinta, Indonesia.   
Kami membangun di area kami, dan anda membangun di area anda. Mari bekerjasama dengan baik. Mari membangun Indonesia dengan akhlak, karya, dan kerja nyata. Semoga akan lahir para pemimpin ideal di masa depan untuk Indonesia yang lebih baik. Amin.
Marlis Herni Afridah,
Presidium Pembinaan Tradisi Keilmuan Islamic Global Leader.
*Islamic Global Leader adalah komunitas mahasiswa non-profit, non-politis, non-partisan yang bernafaskan Islam dengan program-program pembelajaran untuk meningkatkan kualitas akhlak dan karakter masing-masing individu, meningkatkan kualitas multilingual (penguasaan terhadap 2 bahasa asing atau lebih), meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman budaya dan pemikiran bangsa-bangsa, membina kemampuan kreatif dalam rangka menciptakan para pemimpin masa depan yang mampu untuk berhasil baik di level nasional maupun internasional.

Wallahua’lam Bissawwab...


[1] Sebenarnya sulit untuk menggantikan istilah kaum tercerahkan dengan kaum akademisi karena begitu kompleksnya definisi sesungguhnya dari kaum tercerahkan itu sendiri. Disini saya mengalami problem alih bahasa, maka untuk memudahkan pesan ini sampai kepada pembaca, saya sedikit mensimplifikasi istilah kaum tercerahkan dengan istilah kaum akademisi karena pada keduanya sama-sama melekat ilmu pengetahuan, insyaallah. Wallahua’lam bissawwab.
[2] Kishore Mahbubani dalam Asia Hemisfer Baru Dunia
[3] Tanpa bermaksud mengeneralisasi. Saya yakin di tengah-tengah rakyat ada banyak orang-orang yang dengan penuh dedikasi berjuang sepenuh hati untuk memperbaiki masyarakat dengan jalan apapun yang menjadi bidang kehidupannya. Semoga Tuhan membalas sebaik-baiknya usaha mereka. Amin.
[4] Al-Hindi, Kanz Al-Ummah 6/89
[5] John Stuart Mill, On Liberty.
[6] Republika Online, 20 April 2013
[7] Anis Matta & Ary Ginanjar : Dialog Peradaban.
[8] marwahdaud.multiply.com/journal
[9] Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia in 2045 : A Centenial Journey of Progress.
[10] 20 April 2013. 11.24 am near Bangkok, Krung Thep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar