Jumat, 02 Agustus 2013

Focusing Our Heart to Allah


"Oh Allah, teach me to love others just like i love myself, teach me to judge myself just like i judge others. And if i have wronged anyone, give me the courage to apologize, and if anyone wronged me, give me the courage to forgive. Because You have taught me that forgiveness is the highest level of strength and revenge is the highest level of weakness. And i ask You not to forget me in Your forgiveness" 
-Come Towards Allah Come Towards Success-

Sejenak mari kita renungkan, kapan kita mulai belajar shalat..?? Sudah lama sekali kita belajar shalat, sejak balita, mungkin. Kapan kita mulai hafal doa iftitah “Allahu Akbar kabiro wa a-lhamdulillah katsiro wa subhannallah  bukrata wa asila. INNI WAJJAHTU WAJHIYA LI ALLADZI FATARA AS-SAMAAWAAT WA AL-ARD. Hanifa muslima wa ma ana min al-musyrikin. Inna salati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabb al-alamin. La syarika lahu wa bi dzalika umirtu wa ana min al-muslimin”.

Ah, lagi-lagi ini bukan tulisan berat khas kaum akademisi yang penuh dengan teori dan data. Ini hanyalah sebuah tulisan kecil, tentang perjalanan hidup, tentang kegelisahan hati, tentang hakekat kehidupan. tentu saja dari perspektif seorang awam yang jauh dari alim. Seorang awam yang sangat butuh uluran tangan hamba-hamba Allah yang alim saleh agar dia bisa berjalan melewati kehidupan dunia ini dengan selamat.

Sungguh baru akhir-akhir ini aku sedikit terbuka untuk memahami makna dari Inni wajjahtu wajhiya li alladzi fatara as-samaawaat wa al-ard yang artinya kurang lebih aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menghamparkan langit dan bumi. Tentu hanya sebuah pemahaman yang dangkal. Dan menurut pemahamanku yang dangkal itu, arti dari kalimat Inni wajjahtu wajhiya li alladzi fatara as-samaawaat wa al-ard adalah memfokuskan diri hanya kepada Allah. Kalimat itu akrab kita rapalkan minimal 5x dalam sehari. Tapi apakah sampai ke hati..??

Untuk diriku tidak. Buktinya selama ini hatiku terus saja sibuk dengan segala urusan. Jangan ditanya apakah hati ini fokus kepada Allah..?? Sungguh terlalu banyak fokus : alias tidak fokus. Saking banyaknya fokus hati ini jadi  hilang kompas, disorientasi. Walhasil, kalimat iftitahku seolah hanya mantra, hanya ritual. Pasti ada yang salah dengan shalatku. Astagfirullah...

Hati ini, sungguh mudah sekali dikendalikan dan disetir oleh dunia. Dimanakah jejak ikrar Inni wajjahtu wajhiya li alladzi fatara as-samaawaat wa al-ard  yang selalu aku baca selepas takbirotul ikhram..?? Entahlah. Saat mendapat kesenangan, sering diri ini khilaf, lalai, lupa. Saat mendapatkan kesulitan hidup, saat harus berurusan dengan manusia-manusia ‘menyebalkan’ yang mengusik hidup. Saat satu atau dua orang hadir dan berulah : menyalahi, menyakiti, mengganggu, menghina, mencaci maki, meremehkan, seketika itu juga fokus hati ini bergeser. Kemudian Allah, entah aku beri tempat dimana. Hati tiba-tiba terasa remuk redam, marah, sakit, merana, kecewa, bimbang dan gelisah. Oh Allah,  mudah sekali fokus hati ini digeser oleh dunia.

Aku ingat dulu Kangjib pernah berkisah tentang Sahabat Ali bin Abi Thalib Karamallah Wajhahu. Waktu itu beliau bertarung di medan perang dan nyaris berhasil membunuh musuhnya saat tiba-tiba sang musuh meludahi wajah beliau yang mulia. Seketika itu, Sahabat Ali segera menyarungkan pedangnya dan melenggang pergi, melepaskan musuhnya begitu saja dan tak jadi membunuhnya. Merasa penasaran dengan tindakan Sahabat Ali, sang musuh bertanya “Kenapa kau tak jadi membunuhku padahal kau bisa dengan sangat mudah melakukannya..??” Sahabat Ali menjawab “Jika tadi aku membunuhmu, niscaya aku tidak membunuhmu karena Allah. Tadi aku marah karena engkau ludahi. Jika aku membunuhmu, pasti aku  membunuhmu karena kemarahanku, dan bukan karena Allah. Maka dari itu aku tak mau membunuhmu.” 

Sungguh betapa luar biasa upaya Rasulullah saw dan para sahabat dalam menjaga fokus hatinya semata-mata hanya kepada Allah. Dengan berfokus kepada Allah dan keteguhan hati yang sekuat baja, urusan-urusan dunia menjadi remeh di mata mereka. Segala dinamika dunia, entah senang atau susah hanya menjadi wasilah mereka untuk menunjang fokus hidupnya, yaitu meraih ridho Allah. Hati mereka menjadi selapang samudera bahkan lebih lapang lagi. Mereka begitu ringan menjalani kehidupan meski harus berkawan dengan derita dan rasa sakit.

Saat fokus seseorang hanyalah Allah, maka semua yang dia lihat adalah Allah, semua  yang dia rasakan adalah Allah, semua yang dia indera adalah Allah. Allah, Allah, dan Allah saja. Semua Allah. Akhirnya, setiap jengkal kehidupannya menjadi wasilah untuk menuju Allah, meraih ridho dan rahmat-Nya. Maka di hadapan matanya tidak ada yang buruk dalam kehidupan. Semuanya hikmah, semuanya rahmat. Sungguh indah hidup orang-orang yang hatinya fokus kepada Allah.

Sedang aku, berapa banyak manusia telah aku sakiti karena ucapan dan perbuatanku..?? Berapa banyak kesalahan sudah aku buat kepada orang lain..?? berapa banyak urusan-urusan duniawi sudah menggeser fokusku dari Allah..?? Sungguh memalukan. Jika ada manusia paling memalukan itu adalah aku. Jika ada manusia paling rusak itu adalah aku. Jika ada manusia paling kotor itu adalah aku. Jika ada manusia paling bersalah itu adalah aku. Semua keburukan itu, sungguh milikku.

Tapi memang dasar diriku...!!! Ada seorang gadis cemburu buta padaku, aku gregetan kepadanya, marah, jengkel, dongkol, risih dan merasa sangat terganggu. Saat aku disalahi orang aku menyalahkannya, memprotesnya, menghujatnya. Meskipun akhirnya memaafkan, nyeri di hati tak kunjung hilang. Silaturahmi tak kunjung tersambung kembali. Keangkuhan diri masih saja mendominasi. Saat aku merasa terdzolimi, aku mencari-cari dalil dari para motivator ternama, bahwa kesalahan  ibarat paku, paku yang sudah ditancapkan mungkin bisa dicabut kembali, tapi bekasnya tak akan pernah hilang. Begitu juga luka hati ini, semua tak akan pernah sama seperti sebelum ia terluka. Ahhh.. pandai sekali aku mencari pembenaran..!!! Nyaman sekali aku dengan rasa sakitku sehingga aku terus mencari-cari alasan, pemakluman dan dukungan untuk melegitimasi keadaanku. Betapa sempitnya hatiku ini. Jika hati ini tidak bisa aku lapangkan, apa guna al-Qur’an diturunkan..??? Apa guna Rasulullah Muhammad saw diutus..???

Memang benar bahwa rasa sakit itu manusiawi, patah hati itu manusiawi, terluka itu manusiawi. Semua itu merupakan reaksi spontan saat kita tersakiti karena dada kita toh memang tak pernah dibedah oleh Malaikat Jibril untuk dibersihkan dari segala kotoran. Tapi fokus kepada Allah dan petunjuk Rasulullah saw adalah obat yang tidak diragukan khasiatnya. Ia bisa mengobati hati paling sempit dan menjadikannya selapang samudera, bahkan alam semesta, bahkan lebih lapang lagi.

Saat hati kita fokus kepada Allah, kita akan rela melakukan apa saja yang bisa membuat Allah senang, bahagia, bangga dan ridho. Tujuan hidup ini, bukankah hanya untuk membahagiakan Allah dan Rasul-Nya saja dengan jalan apapun yang bisa kita tempuh..?? Berat..?? Pasti. Susah..?? Tentu. Tapikan ingin Allah dan Rasul-Nya bahagia..???  Iya. Terus..?? ihhh, pokoqnya ga mudah. Iya, tapi untuk Allah dan Rasul-Nya masa susah..??. Oh, jika memang begitu beratnya, berarti hati ini memang belum fokus kepada Allah saja dan masih diganduli urusan-urusan di luar itu.

Oh, ternyata bagi hati yang fokus hanya kepada Allah, kesalahan orang lain dan rasa sakit kita bisa menjadi wasilah untuk membuktikan kepada Allah bahwa Dia adalah satu-satunya orientasi dalam hidup kita, tidak ada yang lainnya. buktinya, saat kita disalahi oleh orang lain –misal- “Baiklah, aku maafkan meskipun berat, ini semua karena Allah, maka aku rela. Untuk Allah dan Rasul-Nya, aku maafkan semua salahmu, aku redam amarahku, aku bunuh kecewaku. Semua karena Allah dan Rasul-Nya. Aku tahu ini bisa membuat Allah dan Rasul-Nya senang, bahagia, bangga dan ridho maka aku lakukan, aku tempuh jalan ini meskipun beratnya bukan main karena pertama-tama aku harus bertarung melawan diri sendiri terlebih dahulu. Jika bukan karena Allah dan Rasul-Nya, niscaya aku tak sudi. Aku memaafkanmu tanpa syarat karena Allah”

Saat Allah menjadi fokus hidup kita, semua masalah yang muncul dalam kehidupan tak ubahnya makhluk-makhluk utusan Allah yang bersileweran, dikirim oleh Allah untuk menguji kita. Makhluk-makhluk itu bisa kita manfaatkan untuk meraih ridho dan rahmat Allah jika kita memahami. Semua, toh, akan berlalu. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melewati setiap dinamika kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Yang sekiranya membuat Allah dan Rasulullah senang, bahagia, bangga, dan ridho kepada kita. Jika Allah menjadi fokus kita tidak akan ada yang terlalu berat, semua menjadi lebih ringan dan mudah. “Sakit hatiku biarkanlah, berat hati dan luka ini biarkanlah, semua biarkanlah, asal Allah dan Rasulullah saw senang, bahagia, bangga dan ridho kepadaku.”

Baru aku tahu bahwa kesabaran tak ada batasnya, karena lapangnya hati juga tak ada batasnya. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan untuk memfokuskan diri semata-mata hanya kepada Allah. Sungguh, dunia ini tak ubahnya sebuah medan dimana-mana ranjau. Kemanapun kaki ini melangkah ia bisa saja terluka dan celaka. Dunia menawarkan gemerlap kehidupan yang setiap saat berpotensi menggeser fokus hati kita dari Allah entah berupa kesenangan atau kesakitan, sama saja. Maka, mari kita lepaskan segala beban di hati, segala rasa sakit, segala kebencian. Mari kita maafkan setiap manusia, apapun kesalahannya tanpa syarat. Dengan itu kita berharap bahwa Allah juga akan mengampuni segala kesalahan kita, segala dosa, segala aib yang telah kita lakukan. Dengan itu kita mengharap kasih sayang Allah.

Wahai Allah, detik ini saksikanlah, bahwa kelak di hari kiamat tidak ada satupun manusia menjadi seteruku, karena aku membebaskan mereka semua dari fitnahku, dari kesalahan-kesalahan horizontal yang mereka perbuat kepadaku. Aku maafkan semuanya, aku ampuni semuanya. Semoga dengannya Engkaupun mengampuniku dan menghapus kesalahan-kesalahanku kepada manusia. Bagaimana aku memiliki daya untuk tidak mengapuni hamba-Mu, sedang aku selalu membutuhkan ampunan dari-Mu..??

Wahai Allah, penuhilah hati kami dengan rasa cinta sehingga tak ada ruang untuk rasa benci. Jadikan (urusan) dunia di tangan kami, bukan di hati kami. Jika jarak surga dan neraka hanya ada di hati, sungguh kami takut karena Engkau maha mengetahui segala isi hati.
La haula wa la quwwata illa billah al-aliy al-adzim...

2 komentar:

  1. Sikap zuhud terhadap dunia adalah salah bagian bagaimana kita secara tidak langsung mencintai Allah secara utuh. Karena dengan zuhud, kita akan selalu mengedepankan nilai-nilai ukhrowi di dalam menjalankan kehidupan dunia. Kita bekerja dengan niat ibadah akan terasa bernilai daripada bekerja dengan niat dunia. Kita menulis/mengarang buku/kitab dengan niat Li I'lai Kalimatillah akan terasa berguna/barokah daripada dengan niat ingin terkenal/dikenal. Sebab zuhud tidak harus membenci dunia, akan tetapi zuhud adalah bagaimana kita memiliki dunia tapi kita tidak mencintainya. Nabi Muhammad saw. pernah ditanya salah seorang sahabat " Ya Rasulullah, amal apa yang dapat mendekatkanku kepada Allah dan manusia, beliau menjawab "Zuhudlah kamu terhadap dunia"
    عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ . )حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة(
    Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi ra. dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah saw., dan bertanya : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia. (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya)
    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha mendekat kepada Allah, dengan menjalani kehidupan tanpa melupakan-Nya.
    "Ingatlah Allah dimana kamu berada, Pasti Allah akan selalu mengingatmu dimana kamu berada"(al-hadits)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih tambahan ilmunya Mas Saifur Ashaqi. Sangat bermanfaat inshaallah.
      Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang mampu menjalani kehidupan sebagaimana dikehendaki oleh-Nya, mendapat ridho dan rahmat-Nya. Amin...

      Hapus