Rabu, 24 Oktober 2012

Ngobrol 1 Jam Bersama Kak Nadiah

Satu lagi mutiara hikmah itu aku temukan di rumah keluarga yang hangat ini, keluarga Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. kali ini, Allah menitipkan hikmahnya pada seorang perempuan cantik, muslimah taat yang sangat menyenangkan, ramah, dan penuh cinta pada sesama, Kak Nadiah, puteri ke-2 Prof Laode.
Aku dan Kak Nadiah duduk-duduk di lantai 2, bercerita banyak hal. Dengan wajah sumringah, kak Nadiah yang memang terkenal sangat ramah pada siapa saja mulai bercerita berbagai pengalaman hidup dan nilai-nilai yang diyakininya. Sekilas duduk berhadap-hadapan dengannya, aku segera menyadari bahwa ia bukan perempuan sembarangan.
Kak Nadiah mengajariku banyak hal bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap. Bahwa perempuan harus cerdas, cantik, dan disaat yang sama ia harus mengutamakan keluarganya di atas segala bentuk orientasi yang lain. Maka aku pikir, beruntung sekali Kak Edo memiliki seorang istri seperti Kak Nadiah. Eit, tapi aku segera harus meralat pemikiranku, karena ternyata, Kak Edo juga memiliki pribadi yang sama. Konon, Kak Nadiah dan Kak Edo menikah dengan proses ta’aruf. Kak Nadiah belum terlalu mengenal kak Edo, jadi bisa diibaratkan saat itu Kak Nadiah sedang membeli kucing di dalam karung. Tapi begitulah rumus kehidupan, bahwa janji Allah adalah benar. Allah sekali-kali tak pernah mengingkari janji-Nya. Kak Nadiah yang konon membeli kucing di dalam karung itu, mendapatkan sosok suami yang sama persis seperti dirinya. Artinya, Kak Nadiah menuai kebaikan yang selama ini telah ia tanam. Kak Nadiah mendapat suami yang sangat baik. Memang, perempuan baik hanya untuk laki-laki yang baik, dan perempuan yang tidak baik juga untuk laki-laki yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya.
Selanjutnya, kak Nadiah banyak bercerita tentang majelis ta’lim yang ia ikuti di Jakarta. Awalnya, kak Nadiah hanya merasa gelisah “Hidupku ini untuk apa sebenarnya?”. Berawal dari kegelisahan ini, kak Nadiah mulai menyambangi masjid-masjid seorang diri. Datang ke pengajian-pengajian ibu-ibu yang ada di Jakarta. Kak Nadiah hanya punya satu niat : hijrah. Ia ingin kehidupan yang lebih bermakna, dekat dengan Allah. Dari situ, akhirnya kak Nadiah diperkenalkan oleh Allah dengan orang-orang yang satu visi dengannya. Orang-orang yang sangat mencintai Allah dan selalu berusaha menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Kak Nadiah menuturkan “Hanya ada 2 pilihan, bicara yang bermanfaat atau diam”. Kak Nadiah menyadarkanku, bahwa selama ini masih banyak sekali perbuatanku yang sia-sia.
Kak Nadiah bercerita “Skenario hidup yang dibuat oleh Allah untuk kita itu adalah skenario terindah, walaupun kadang kita tidak suka”. Misal menanggapi persoalan jilbab. Kata Kak Nadiah, manusia suka ngeyelan. Saat ada perintah untuk berjilbab, orang sering bertanya “Kenapa harus berjilbab?” sebagai satu bentuk resistensi atas perintah itu. Padahal menurut Kak Nadiah, apa yang disuruh Allah adalah yang terbaik. Kenapa Allah menyuruh kita, para perempuan untuk berjilbab, Ya karena itulah busana yang paling baik untuk perempuan. Busana yang bisa menjaga kehormatan, dan yang terpenting menjaga keindahan dan kecantikan perempuan. Kata kak Nadiah “coba perhatikan, gak ada kan perempuan berjilbab yang tidak cantik?? Semua perempuan berjilbab pasti cantik”. Iya juga pikirku.
Soal pendidikan anak, Kak Nadiah mengatakan bahwa hal pertama yang harus dikenalkan kepada Anak adalah pengenalan kepada Allah. Bukan orang tua, ataupun yang lainnya. Allah adalah yang pertama dan utama harus diperkenalkan kepada seorang anak. Misal, jika kita hendak mengatakan sayang pada anak kita, sebaiknya kita berujar “Bunda dan Ayah sayang adek karena Allah” atau “Ini ada permen buat adek, dikasih sama Allah”. Jadi, kita harus selalu menyertakan nama Allah dalam setiap interaksi kita dengan anak, sehingga nama Allah akan meresap dalam diri anak kita, menjadi sebentuk self consciousness yang akan menyertai dan menjaga setiap langkahnya. Duduk bersama Kak Nadiah beberapa menit saja sudah membuatku belajar banyak sekali hal tentang kehidupan.
Satu hal yang sangat menarik bagiku adalah cerita Kak Nadiah saat hendak menunaikan ibadah haji dengan suaminya pada tahun 2011. Didahului dengan ibadah umrah bersama suaminya yang meninggalkan kesan sangat mendalam di dalam hati, Kak Nadiah menetapkan diri untuk pergi haji. Di tanah suci Kak Nadiah berdoa kepada Allah supaya segera dipanggil kembali sebagai tamu Allah sehingga ia bisa menyempurnakan rukun Islam yang 5 itu. Beberapa saat setelah sampai di Indonesia, Kak Nadiah dan Kak Edo mendaftar program haji. 3 bulan kemudian, Kak Nadiah dan Kak Edo mendapat panggilan haji dari pemerintah. Setelah semua proses di urus, dan keduanya diantara oleh keluarga besar ke bandara, tiba-tiba ada kabar bahwa keduanya gagal berangkat karena tidak mendapat visa dari kerajaan Saudi Arabia. Merekapun kembali ke rumah.
Sampai di rumah, Kak Nadiah dan Kak Edo bertekad untuk tidak menyalahkan travel agent atau siapapun. Mereka memilih muhasabah  dan tafakkur. Apa kiranya kesalahan yang mereka buat sehingga Allah enggan menjadikan mereka sebagai tamunya pada musim haji kali ini. Mereka bertahajud semalaman, merefleksi semua kesalahan di masa lalu. Dan Aajaib..!! paginya mereka dikontak oleh travel agent bahwa permohonan visa mereka di-approve oleh kerajaan Saudi Arabia dan bisa segera berangkat haji. Jadilah mereka berhaji pada 2011. Yah, begitulah, ketika Allah ‘melihat’ hamba-Nya, Dia akan mengujinya. Dan saat hamba-Nya mencoba bersabar dan melihat ke dalam diri (bukannya mencari-cari kesalahan pihak lain), maka Allah akan memuliakannya dengan kenikmatan. Itulah salah satu alasan, kenapa Kak Nadiah sangat yakin, bahwa musuh kita yang terbesar adalah hawa nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri. Bukan yang lainnya
Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar