KADER HMI DAN IPK : SEBUAH POLEMIK
Konon berkembang di kalangan
mahasiswa khususnya para aktivis pergerakan, khususnya lagi kader HMI, bahwa
IPK tidak penting karena ‘diyakini’ tidak mewakili kemampuan seorang mahasiswa
yang sesungguhnya. Statemen yang muncul biasanya seperti “IPK tidak penting, yang terpenting adalah skill.” Statemen ini
dirasionalisasi sedemikian rupa, hingga akhirnya menjadi penyebab dari terjun
bebas-nya IPK banyak mahasiswa, terutama yang mengaku dirinya sebagai aktivis
pergerakan[1]. Statemen ini meresap kedalam hati dan pikiran, menjadi semacam keyakinan yang
kemudian mempengaruhi keputusan dan tindakan seorang mahasiswa, dan secara otomatis
membuat IPK mereka terjun bebas betapapun ia sesungguhnya adalah seorang
yang cerdas. Semua itu berawal dari cara berpikir yang salah dalam memahami IPK
yang di perguruan tinggi –entah apakah kita suka ataupun tidak- diakui
sebagai representasi pencapaian akademik seseorang.