Rabu, 09 Januari 2013

Kader HMI dan IPK : Sebuah Polemik

KADER HMI DAN IPK : SEBUAH POLEMIK

 Konon berkembang di kalangan mahasiswa khususnya para aktivis pergerakan, khususnya lagi kader HMI, bahwa IPK tidak penting karena ‘diyakini’ tidak mewakili kemampuan seorang mahasiswa yang sesungguhnya. Statemen yang muncul biasanya seperti  “IPK tidak penting, yang terpenting adalah skill.” Statemen ini dirasionalisasi sedemikian rupa, hingga akhirnya menjadi penyebab dari terjun bebas-nya IPK banyak mahasiswa, terutama yang mengaku dirinya sebagai aktivis pergerakan[1]. Statemen ini meresap kedalam hati dan pikiran, menjadi semacam keyakinan yang kemudian mempengaruhi keputusan dan tindakan seorang mahasiswa, dan secara otomatis membuat IPK mereka terjun bebas betapapun ia sesungguhnya adalah seorang yang cerdas. Semua itu berawal dari cara berpikir yang salah dalam memahami IPK yang di perguruan tinggi –entah apakah kita suka ataupun tidak- diakui sebagai representasi pencapaian akademik seseorang.

Selasa, 25 Desember 2012

Peran HMI untuk Masa Depan Kepemimpinan Nasional Indonesia

MASA DEPAN KEPEMIMPINAN NASIONAL :
PERAN HMI DALAM MEMPERSIAPKAN PEMIMPIN MASA DEPAN 
HARAPAN INDONESIA

Oleh :
Marlis Herni Afridah
 “The worth of a state in the long runs is the worth of the individuals composing it”
-John Stuart Mill-

Kecenderungan global berubah di abad 21. Sebelumnya, kepemimpinan global cenderung didominasi oleh segelintir negara kuat –Seperti Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya- yang sering mengintervensi kedaulatan negara lain atas nama prinsip-prinsip dan tujuan universal. Ivan Tselichtchev dalam bukunya China Versus The West menjelaskan bahwa di abad 21, tidak akan ada satupun negara yang mampu mendominasi dan mengatur dunia sesuka kepentingannya[1]. Kecendrungan kepemimpinan dunia di masa lalu yang terpolarisasi pada satu kubu kekuatan global, kini menjadi multipolar. Di abad 21, masing-masing negara dapat menentukan arah dan tujuannya. Di Abad 21, masing-masing bangsa dapat menentukan nasibnya sendiri. Kecendrungan kepemimpinan global di abad 21 membuka peluang yang dinamis bagi semua negara untuk secara aktif membangun kepemimpinan regional dalam rangka ikut berperan aktif dalam dinamika kepemimpinan global. 

Rabu, 07 November 2012

11th AUPF Korea

11th ASIAN UNIVERSITY PRESIDENTS FORUM (AUPF)
Dongseo University, Busan, Korea Selatan

Asian University Presidents Forum (AUPF) ke-11 telah digelar pada tanggal 28-31 Oktober 2012 di Dongseo University, Busan, Korea Selatan. Forum ini dihadiri oleh 141 presiden (atau yang mewakili) universitas-universitas dari 68 perguruan tinggi di 17 negara Asia. Tema AUPF ke-11 yang digelar di Busan, Korea Selatan adalah “The Era of Asia : Creating a Cooperative Networks of Asian Universities.” Hal ini ditujukan untuk menyoroti pentingnya kerjasama melihat tuntutan dari kecenderungan global dewasa ini. Ke depan, Asia dituntut untuk dapat mendidik para calon pemimpin regional dan global. Maka dari itu, para presiden universitas di Asia merasakan keterpanggilan dan tanggung jawab untuk mempersiapkan para mahasiswa agar mampu menghadapi perubahan dunia. 

Minggu, 28 Oktober 2012

AUPF #11 @ Dongseo University, Busan, Korea Selatan

Rektor UNISSULA Wakili Indonesia dalam Asian University Presidents Forum (AUPF) di Korea Selatan

Oleh : Marlis Herni Afridah *

Asian University Presidents Forum (AUPF) adalah Forum Rektor Asia yang berfokus dalam menjalin kerjasama pendidikan universitas-universitas di Asia. Tujuan utama dari kerjasama tersebut adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Asia. Prof. Laode M. Kamaluddin, M.Sc. M.Eng. Ph.D sebagai rektor Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, merupakan salah satu inisiator dan kontributor yang berperan penting dalam AUPF. Beliau adalah konseptor Asian Cyber Network University (ACNU). Sebuah konsep yang akan digunakan oleh AUPF untuk revolusi  pendidikan di Asia.

Rabu, 24 Oktober 2012

Ngobrol 1 Jam Bersama Kak Nadiah

Satu lagi mutiara hikmah itu aku temukan di rumah keluarga yang hangat ini, keluarga Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. kali ini, Allah menitipkan hikmahnya pada seorang perempuan cantik, muslimah taat yang sangat menyenangkan, ramah, dan penuh cinta pada sesama, Kak Nadiah, puteri ke-2 Prof Laode.
Aku dan Kak Nadiah duduk-duduk di lantai 2, bercerita banyak hal. Dengan wajah sumringah, kak Nadiah yang memang terkenal sangat ramah pada siapa saja mulai bercerita berbagai pengalaman hidup dan nilai-nilai yang diyakininya. Sekilas duduk berhadap-hadapan dengannya, aku segera menyadari bahwa ia bukan perempuan sembarangan.